GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Uncategorized
Beranda » Berita » 𝐌𝐄𝐋𝐈𝐇𝐀𝐓 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐃𝐈 𝐖𝐀𝐉𝐀𝐇 𝐈𝐁𝐔 (𝐑𝐞𝐟𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐈𝐧𝐣𝐢𝐥 𝐘𝐨𝐡𝐚𝐧𝐞𝐬 𝟏𝟒:𝟕–𝟏𝟎)

𝐌𝐄𝐋𝐈𝐇𝐀𝐓 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐃𝐈 𝐖𝐀𝐉𝐀𝐇 𝐈𝐁𝐔 (𝐑𝐞𝐟𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐈𝐧𝐣𝐢𝐥 𝐘𝐨𝐡𝐚𝐧𝐞𝐬 𝟏𝟒:𝟕–𝟏𝟎)

𝐌𝐄𝐋𝐈𝐇𝐀𝐓 𝐀𝐋𝐋𝐀𝐇 𝐃𝐈 𝐖𝐀𝐉𝐀𝐇 𝐈𝐁𝐔 (𝐑𝐞𝐟𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐈𝐧𝐣𝐢𝐥 𝐘𝐨𝐡𝐚𝐧𝐞𝐬 𝟏𝟒:𝟕–𝟏𝟎)

Oleh : Robert Bala

PELITADESANTT.COM – Kalau hari ini kita ditanya, “Pernah nggak sih kamu merasakan kasih Allah?” mungkin kita akan jawab, “Pernah.” Tapi kalau ditanya lagi, “Pertama kali kamu melihat kasih itu di mana?” banyak dari kita, kalau jujur, akan bilang: di wajah ibu.

Waktu kecil kita nggak sadar. Kita cuma tahu: makanan selalu ada. Baju selalu rapi. Kalau jatuh, ada yang peluk. Kalau takut, ada yang temani. Kita nggak pernah mikir dari mana semua itu datang. Pokoknya tersedia.

Baru setelah dewasa, kita mulai paham. Di balik piring yang terisi, ada tangan yang bekerja. Di balik senyum yang tenang, ada lelah yang disembunyikan. Di balik hidup yang berjalan baik-baik saja, ada doa yang dinaikkan diam-diam.

Lepas Peserta Kukerta UPG 1945 NTT, Gubernur Melki Dorong Peningkatan Kualitas Pendidikan di NTT

Dalam Injil Yohanes 14:9, Yesus berkata, “𝑩𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈𝒔𝒊𝒂𝒑𝒂 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝑨𝒌𝒖, 𝒊𝒂 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝑩𝒂𝒑𝒂.” Kalimat ini dalam banget. Yesus mau bilang: Allah itu bukan sosok jauh dan abstrak. Allah itu bisa dilihat. Bukan dengan mata fisik semata, tapi lewat kasih yang nyata. Dan banyak dari kita pertama kali “melihat” kasih itu… lewat ibu. Inilah yang menjadi alasan, mengapa kita berkumpul saat ini dalam peringatan 2 tahun wafatnya Oma, Ibu, Christina Wayem dan semua ibu di dunia.

Bagaimana kita mengenal Allah dalam wajah Ibu kita? 𝑷𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂, 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒂𝒍 𝒃𝒂𝒉𝒘𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑺𝒆𝒕𝒊𝒂 — 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑹𝒖𝒕𝒊𝒏𝒊𝒕𝒂𝒔 𝑰𝒃𝒖. Ibu itu jarang bikin gebrakan besar. Nggak ada panggung, nggak ada spotlight. Tapi ia bangun paling pagi, tidur paling malam. Hal yang sama, setiap hari. Masak lagi. Bersih-bersih lagi. Doa lagi. Nanya kabar lagi.

Rutinitas yang kelihatannya biasa itu justru luar biasa. Bukankah Allah juga begitu? Matahari terbit tiap pagi tanpa kita minta. Nafas diberikan tanpa kita bayar. Tuhan setia, nggak heboh, tapi konsisten. Ibu mengajarkan kita satu hal: kasih sejati itu bukan soal momen spektakuler. Kasih itu soal hadir, terus-menerus.

𝑲𝒆𝒅𝒖𝒂, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒂𝒍 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑩𝒆𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂 𝑫𝒊𝒂𝒎-𝑫𝒊𝒂𝒎. 𝑯𝒂𝒍 𝒊𝒕𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒐𝒓𝒃𝒂𝒏𝒂𝒏 𝑰𝒃𝒖. Kita nggak pernah benar-benar tahu berapa banyak yang ibu korbankan. Berapa kali ia menahan keinginannya supaya kita bisa sekolah. Berapa kali ia pura-pura kuat supaya kita nggak ikut khawatir.Air matanya sering jatuh tanpa saksi. Lelahnya sering dipendam tanpa keluhan.

Allah pun sering bekerja seperti itu. Kita baru sadar pertolongan-Nya setelah badai lewat. Waktu semuanya baik-baik saja, kita pikir itu kebetulan. Padahal ada tangan Tuhan yang menjaga. Ibu mencerminkan kasih yang bekerja di balik layar. Diam-diam. Tapi menyelamatkan. Ada momen dalam hidup seorang ibu ketika ia bisa berkata dengan tenang, “Selesailah sudah.” Bukan menyerah. Tapi lega. Karena tugas sudah dijalankan. Anak-anak sudah dilepas. Tanggung jawab sudah diwariskan.Itu bukan akhir. Itu penyerahan.

Jelajahi Flores, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana Tebar Inspirasi lewat “Kemah Kerja Berdampak”

𝑲𝒆𝒕𝒊𝒈𝒂, 𝑲𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒂𝒍 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑴𝒆𝒏𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒓. 𝑯𝒂𝒍 𝒊𝒕𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒍𝒊𝒉𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝑫𝒐𝒂 𝑰𝒃𝒖. Nggak banyak bicara soal teologi. Tapi coba tanya: siapa yang paling setia menyebut nama kita dalam doa? Ibu. Malam hari, waktu semua orang tidur, mungkin ia masih terjaga. Bukan scroll media sosial, tapi menyebut satu per satu nama anaknya di hadapan Tuhan. Kita nggak dengar doanya. Tapi kita hidup dalam dampaknya.

Ada cerita tentang seorang dokter sukses yang ditanya, “Siapa yang paling berjasa dalam hidup Anda?” Ia nggak menyebut profesor, nggak menyebut universitas. Ia cuma bilang, “Ibu saya.”
Setelah ibunya meninggal, ia menemukan buku doa kecil. Di setiap halaman tertulis namanya, dengan doa yang sama: “Tuhan, jadikan anakku orang yang takut akan Engkau dan berguna bagi sesama.” Ia menangis. Ia sadar, keberhasilannya bukan cuma hasil kerja kerasnya. Tapi hasil doa yang tak pernah ia dengar. Bukankah Allah juga begitu? Mendengar bahkan sebelum kita berseru.

𝑺𝙚𝒌𝙖𝒓𝙖𝒏𝙜 𝙂𝒊𝙡𝒊𝙧𝒂𝙣 𝙆𝒊𝙩𝒂. Kepergian Ibu Christina tidak saja menjadi momen anak dan cucu berterima kasih kepadanya karena telah menghadirkan kasih Allah, tetapi juga kita terajak untuk mendoakan semua ibu di dunia. Hari ini mungkin ibu kita masih ada. Mungkin juga sudah tiada. Tapi kesetiaannya masih hidup dalam nilai yang ia tanamkan. Pengorbanannya masih terasa dalam cara kita menjalani hidup. Doanya masih menguatkan saat kita hampir menyerah.

Lewat seorang ibu, kita belajar: Allah sering hadir bukan lewat hal besar dan spektakuler. Tapi lewat tangan yang memasak. Pelukan yang menguatkan. Doa yang tidak terdengar siapa-siapa.
Dan sekarang pertanyaannya sederhana: Kalau orang melihat hidup kita… apakah mereka bisa melihat sedikit bayangan kasih Allah? Karena mungkin, seperti Yesus menghadirkan Bapa, dan seperti ibu menghadirkan kasih Tuhan bagi kita… kini giliran kita menghadirkan kasih itu bagi dunia. Amin.

𝗥𝗼𝗯𝗲𝗿𝘁 𝗕𝗮𝗹𝗮. 𝗣𝗲𝗻𝘂𝗹𝗶𝘀 𝗯𝘂𝗸𝘂 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗜𝗥𝗜𝗡𝗚𝗜 𝗞𝗘𝗠𝗔𝗧𝗜𝗔𝗡, 𝟳𝟯 𝗥𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗜𝗯𝗮𝗱𝗮𝘁 𝗞𝗲𝗺𝗮𝘁𝗶𝗮𝗻. 𝗣𝗲𝗻𝗲𝗿𝗯𝗶𝘁 𝗟𝗲𝗱𝗮𝗹𝗲𝗿𝗼, 𝗢𝗸𝘁𝗼𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟰.

Bupati Lembata Tegaskan Tidak Tolerir Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Desa Atuwalupang, Polsek Buyasuri Palang Lokasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *