BUNG KARNO Selama di Endeh (14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938) “MENGUBAH PENGASINGAN MENJADI TEATER MERDEKA”
Oleh Tim Redaksi
PELITADESANTT.COM – Pelabuhan Endeh (sekarang: Pelabuhan Bung Karno). Beberapa saat sebelum diasingkan, koran-koran di tanah air memberitahukan bahwa Bung Karno dibuangkan ke Bajawa daerah terpencil dan dingin, di pedalaman Flores yang kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Ngada, sekitar 124 km sebelah barat Kota Endeh. Pemberitahuan koran itu benar sekitar pukul 08.00 pagi hari tanggal 14 Januari 1934 tepat pada hari selasa, KM Van Riebek lego jangkar di pelabuhan Endeh dan dikawal oleh Tentara Belanda Bung Karno dengan senang hati turun ke darat dan langsung menuju Pasanggrahan milik penjajah yang kini menjadi kantor POM ABRI, letaknya kira-kira ½ km dari pelabuhan Endeh, Djae Bara, tanpa tahun, “Kesan-Kesan Ketika Bung Karno Diasingkan Di Endeh“, dibuat sendiri, Ende-Flores, hlm.1.
Jalan Kartini (sekarang: kantor Sub Detasemen Polisi Militer IX/1-1)
Setelah beberapa saat kemudian Bung Karno kembali ke kapal tersebut menjemput istrinya Nyonya Inggit Gernasi dan mertuanya Ibu Amsi dan bersama ketiga anak angkatnya Nona Ratna Juami beserta Muin dan Imam, mereka semua menuju Pasanggrahan dengan mobil carteran yang dikemudikan oleh Saudara Ibrahima, pertemuan pertama itu memberi daya tarik tersendiri bagi Saudara Ibrahim beliau langsung akrab dengan Bung Karno, sehingga ongkos kendaraannya ditolaknya, katanya “tak usah Tuan nanti lain kali saja” setelah itu entah mengapa Bung Karno berkeberatan untuk ke Bajawa, dan Beliau ingin menjalani masa pembuangannya di Kota Endeh, permintaan Beliau disetujui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Bung Karno mohon agar Ia beserta keluarganya tidak dikurung di sana tetapi ditempatkan di rumah penduduk saja, permintaan itupun disetujui oleh Penjajah Hindia Belanda, Djae Bara, hlm.1.
Jalan Perwira (situs rumah pengasingan Bung Karno)
Bung Karno beserta keluarganya tinggal menempati sebuah rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru, di kampung Ambugaga yang kini terletak di jalan Perwira kelurahan Kota Ratu (sekarang: Kota Raja), Djae Bara, hlm.1.
Sebagai tahanan kota, Bung Karno memiliki kebebasan yang cukup. Ia memiliki ruang gerak yang cukup luas untuk berkontak atau bergaul dengan banyak pihak dalam kota Ende yang menjadi “rumah tahanan”-nya selama hampir lima tahun. Ende tahun-tahun itu adalah Ende yang masih terkebelakang dalam banyak hal. Termasuk dalam segi pendidikan dan wawasan berpikir mayoritas orang-orangnya. Yang memiliki pendidikan dan wawasan berpikir setaraf dengan dirinya paling-paling para pejabat kolonial Belanda. Tetapi dengan kelompok ini mustahil ia bisa bergaul bebas.
Tertulis dalam surat-surat Islam dari Endeh, dari Bung Karno kepada TA Hassan, guru “Persatuan Islam”, Bandung. Di dalam surat Bung Karno tanggal 17 Juli 1935, disampaikannya kepada TA Hassan, bahwa:
…Telah lama saya tidak kirim surat kepada Saudara. Sudahkah Saudara terima saya punya surat yang akhir, kurang lebih dua bulan yang lalu?
Kabar Endeh: Sehat wal’afiat Alhamdulillah. Saya masih terus studi Islam, tetapi sayang kekurangan perpustakaan, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis “termakan”. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari, sesudah cabut-cabut rumput di kebun, dan di sampingnya “mengobrol” dengan anak-bini buat menggembirakan mereka, ialah membaca saja. Berganti-ganti membaca buku-buku ilmu pengetahuan sosial dengan buku-buku yang mengenai Islam. Yang belakangan ini, dari tangannya orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangannya kaum ilmu pengetahuan yang bukan Islam.
Di Endeh sendiri tak ada seorangpun yang bisa saya tanyai, karena semuanya memang kurang pengetahuan (seperti biasa) dan kolot bin kolot. Semuanya hanya mentaqlid saja zonder tahu sendiri apa-apa yang pokok; ada satu-dua berpengetahuan sedikit, di Endeh ada seorang “sayid” yang sedikit terpelajar, tetapi tak dapat memuaskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun dari “kitab fiqh”: mati-hidup dengan kitab fiqh itu, dus kolot, dependent, unfree, taqlid……
Nah, begitulah keadaan saya di Endeh; mau menambah pengetahuan, tetapi kurang petunjuk. Pulang balik kepada buku-buku yang ada saja. Padahal buku-buku yang tertulis oleh autoriteit-autoriteit ke-Islam-anpun, masih ada yang mengandung beberapa pasal yang belum memuaskan hati saya, kadang-kadang malahan tertolak oleh hati dan ingatan saya. Kalau di negeri ramai, tentu lebih gampang melebarkan saya punya sayap……..
Alhamdulillah, antara kawan-kawan saya di Endeh, sudah banyak yang mulai luntur kekolotan dan kejumudannya. Kini mereka sudah mulai sehaluan dengan kita dan tak mau mengambing saja lagi kepada kekolotannya, ketahayulannya,…kemusyrikannya (karena percaya kepada ajimat-ajimat, tangkal-tangkal dan “keramat-keramat”) kaum kuno, dan mulailah terbuka hatinya buat “agama yang hidup”.
Mereka ingin baca buku-buku Persatuan Islam, tetapi karena malaise, mereka minta pada saya mendatangkan buku-buku itu dengan separuh harga. Saya sekarang minta keridaan tuan mengirim buku-buku yang saya sebutkan di bawah ini dengan separuh harga……, Iman Toto K. Rahardjo ed., 2006, “Bung Karno, Islam, Pancasila & NKRI“, Produksi Komunitas Nasionalis Religius Indonesia, Jakarta, hlm.35.
Di dalam surat Bung Karno tanggal 15 September 1935, disampaikannya kepada TA Hassan, bahwa :
…Paket pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Endeh semua membilang banyak terima kasih atas potongan 50% yang tuan izinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang, dan mereka ada maksud lain kali akan memesan buku-buku lagi, Insya Allah……
Brosur yang lain-lain sedang saya baca, Insya Allah nanti akan saya ceritakan kepada tuan saya punya pendapat tentang brosur-brosur itu. Terutama brosurnya tuan AD Hasnie saya perhatikan betul. Buat sekarang ini, sesudah saya baca brosur Hasnie itu secara sambil-lalu, maka bisalah sudah saya katakana bahwa “cara pemerintahan Islam” yang diterangkan di situ itu, tidaklah memuaskan saya, karena kurang “up to date“. Begitukah hukum kenegaraan Islam? Tuan AD Hasnie menerangkan, bahwa demokrasi parlementer itu, cita-cita Islam. Tetapi sudahkah demokrasi parlementer itu menyelamatkan dunia? Memang sudah satu anggapan tua, bahwa demokrasi parlementer itu puncaknya ideal cara pemerintah…….
Brosur almarhum H. Fachruddin akan berfaedah pula bagi saya, karena saya sendiripun banyak bertukaran pikiran dengan kaum Pastur di Endeh. Tuan tahu, bahwa pulau Flores itu ada “pulau misi” yang mereka sangat banggakan. Dan memang “pantas” mereka membanggakan mereka punya pekerjaan di Flores itu. Saya sendiri melihat, bagaimana mereka “bekerja mati-matian” buat mengembangkan mereka punya agama di Flores. Saya ada “respek” buat mereka punya kesukaan bekerja itu. Kita banyak mencela misi, tapi apakah yang kita kerjakan bagi menyebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Bahwa misi mengembangkan Roomskatholicisme, itu adalah mereka punya “hak”, yang kita tak boleh cela dan gerutui. Tapi “kita”, kenapa “kita” malas, kenapa “kita” teledor, kenapa “kita” tak mau kerja, kenapa “kita” tak mau giat? Kenapa misalnya di Flores tiada seorangpun mubalig Islam dari sesuatu perhimpunan Islam yang ternama (misalnya Muhammadiyah) buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir? Misi di dalam beberapa tahun saja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores, tapi berapa orang kafir yang bisa “dihela” oleh Islam di Flores itu? Kalau dipikirkan, memang semua itu “salah kita sendiri”, bukan salah orang lain…, Iman Toto K. Rahardjo ed., hlm.35.
Dari surat-surat Bung Karno kepada TA Hassan dapat dipahami, bahwa meskipun sebagai seorang interniran politik, Bung Karno tetap mendalami ajaran Islam melalui buku-buku dan diskusi dalam mengisi perjuangannya mencapai Indonesia merdeka.
Bung Karno di Ende pernah buka sekolah HIS sekolah Belanda dibuka pada tahun 1935 dan sekolah itu dimulai sore hari, murid-muridnya cukup, hanya tenaga guru yang kurang jadi kira-kira satu tahun ditutup kembali lantas murid-muridnya dipindahkan ke sekolah Ndao, Djae Bara, hlm.8.
Di kediaman baru itu Ibu Amsi pada hari Jumad malam Sabtu 11/12 Oktober 1935 menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang terkena malaria (Surat-surat dari Endeh ditujukan kepada TA Hasan, guru Persatuan Islam Bandung, tertanggal Endeh, 25 Oktober 1935).
Jalan Gajah Mada (Makam Ibu Amsi)
Bung Karno saat itu sangat sedih sekali dan Beliau berkeberatan untuk jasad Ibu Amsi disemayamkan di pekuburan Islam yang terletak di kampung Ambugaga karna sebelumnya Bung Karno telah memiliki Pekuburan di kampung “Saraboro” sekitar 2 km dari kediaman Bung Karno, Djae Bara, hlm.1.
Jalan Yos Soedarso (Biara Santo Yosef)
Sebagai tawanan politik, Bung Karno tetap diawasi oleh pemerintah Belanda. Sebagai tawanan kolonial, Bung Karno juga takut didekati oleh masyarakat Ende umumnya. Tetapi, tidak demikian dengan para pastor SVD di Ende yang pada waktu itu semuanya adalah orang Belanda, “musuh” politik Bung Karno. Bung Karno ternyata berhasil menjalin persahabatan yang akrab dengan mereka, khususnya dengan dua orang yakni Pater Johanes Bouma, SVD (Regional atau pemimpin SVD Regio Sunda Kecil waktu itu) dan Pater Gerardus Huijtink, SVD (Pastor Paroki Ende waktu itu).

Pater Huijtink SVD dan Pater Bouma, SVD
Berkat persahabatannya dengan orang-orang ini, Bung Karno diizinkan leluasa bertamu di Biara Santo Yosef dan diperbolehkan membaca buku-buku dan majalah atau surat kabar yang ada di perpustakaan biara. Lebih dari itu, persahabatan yang karib dengan Pater Johanes Bouma, SVD dan Pater Gerardus Huijtink, SVD menyebabkan Bung Karno tidak sungkan ataupun curiga menjadikan mereka teman diskusi dan bertukar pikiran. Dia sering berdiskusi tentang banyak hal dengan mereka, termasuk gagasan-gagasan dan rencananya untuk mendirikan negara Indonesia merdeka. Ide-ide brilian dalam proses penemuan dan perumusan butir-butir mutiara Pancasila, tidak terlepas dari diskusi-diskusinya yang serius dan mendalam dengan kedua sahabatnya itu.
Di sela-sela diskusi itulah, Bung Karno ditantang oleh kedua sahabatnya (Pater Bouma, SVD dan Pater Huijtink, SVD) dengan dua pertanyaan yang amat mendasar. Pertama, “di mana tempat mamamu yang beragama Hindu itu di dalam negara yang mayoritas Muslim?” Kedua, “di mana tempat orang-orang Flores yang mayoritas Katolik ini dalam negara yang Marxis dan mayoritas Muslim itu?”
Kedua pertanyaan tersebut memaksa Bung Karno berpikir berulang-ulang sebelum akhirnya keluar dengan rumusan final (*). Bung Karno terpaksa harus berpikir keras tentang bagaimana dasar negara yang akan dibentuknya bisa menjawabi kedua pertanyaan itu dengan tepat. Semua masukan kedua sahabatnya itu, dikajinya dengan cermat dan kemudian dimatangkan dalam permenungan-permenungannya yang panjang di bawah pohon sukun di tepi pantai Ende. Pohon sukun itulah, berdasarkan pengakuan Bung Karno sendiri, dikenal sebagai tempat penemuan butir-butir mutiara Pancasila.
Jalan Soekarno (taman Pohon Sukun)
Pohon Renungan Pancasila oleh Bung Karno di Kabupaten Ende pada tahun tujuh puluhan atau 1972 semasa Bupati Haji Hasan Aroeboesman Beliau memagarinya dengan tembok yang cukup tinggi kira-kira satu meter lebih, tidak begitu lama pohon itu layu dan kemudian mati sesudah itu tidak ada yang urus lagi.
Pada waktu Bupati Haji Hasan Aroeboesman diganti oleh Bapak H.J. Gadi Djou Beliau melihat tembok yang begitu tinggi mulai rubuh satu persatu sampai rata dengan tanah lalu Beliau coba menanam kembali pohon sukun tersebut akan tetapi pohon itu tidak bisa hidup kemudian Beliau mengundang kawan-kawan dari Bung Karno yang masih hidup untuk membicarakan mengenai tanaman tersebut. Pada tanggal 31-8-1979 diadakan sidang bersama dengan wartawan dari Kartini, R.Y. Pello jadi keputusan sidang itu pohon sukun tersebut ditanam kembali pada tempat Renungan Pancasila oleh kawan-kawan Bung Karno yang masih mati hidup bekerjasama dengan Pemerintah dan Muspida, tepat tanggal 17-1-1980 pohon itu mulai tumbuh/jadi, kemudian atas permintaan dari kawan-kawan Bung Karno agar tolong dibuat seperti Tugu Pancasila di tempat Renungan itu atau seperti Tugu Pahlawan atau Tugu Kemerdekaan yang sudah ada sekarang ini, Djae Bara, hlm.12.
DI SINILAH BUNG KARNO MERENUNGKAN DAN MENEMUKAN BUTIR-BUTIR MUTIARA PANCASILA (*)

Jalan Kathedral (gedung Immaculata)
Kalau orang berjalan kaki dari rumah Soekarno ke Biara Santo Yosef dapat dicapai dalam waktu kurang dari 10 menit. Di biara ini Soekarno bersahabat dengan Bruder Lambertus, SVD kepala bengkel kayu, yang sering membantu Soekarno membuat dekor bagi pertunjukan sandiwara. Dengan para pater misionaris SVD, Soekarno berkesempatan mengadakan pertukaran pikiran sampai tingkat intelektual tertentu. Pater Johanes Bouma, SVD, seorang tokoh penting dalam misi SVD di Flores, menjadi lawan debat Bung Karno yang paling fasih.
Persahabatan dengan para misionaris itu pulalah yang memberanikan Bung Karno mendirikan kelompok toneel (sandiwara) yang diberinya nama “Klub Tonil Kelimutu”. Lewat tonil-tonil tersebut Bung Karno dapat melanjutkan semangat perjuangannya serta mulai menanamkan semangat perjuangan yang sama dalam diri anak-anak muda Ende. Tonil-tonilnya dipentaskan di gedung paroki, yaitu Immaculata di Jln. Katedral-Ende (sekarang). Tonil-tonil buah kreasi Bung Karno tersebut hampir seluruhnya bertema perjuangan dan bertendensi pemberontakan. Pater Johanes Bouma, SVD dan Pater Gerardus Huijtink, SVD bukan tidak tahu tentang hal itu. Tetapi mereka membiarkannya dan mendukung kegiatannya sampai menyiapkan tempat dan sarana pementasan. Bung Karno juga tidak mendapat banyak kesulitan dari pihak penguasa Kolonial Belanda berkaitan dengan pementasannya, justru karena semuanya dipentaskan di gedung paroki itu.
Para biarawan SVD kemudian melanjutkan pembangunan Gereja Katolik di Ende. Paroki pertama di Ende terbentuk pada 1927, dan seorang pastor paroki pertama di sini adalah Pater Gerardus Huijtink, SVD yang menjadi teman akrab Soekarno. Persahabatan ini awalnya karena Asisten Residen di Ende meminta Pater Gerardus Huijtink, SVD membaca naskah-naskah sandiwara yang dikarang oleh Soekarno dan dipentaskan di Ende, dan bila perlu melakukan sensor atas naskah-naskah itu agar tidak bertentangan dengan kepentingan pemerintah Belanda. Sensor itu tidak pernah dilakukan, tetapi hubungan Soekarno dan Pater Gerardus Huijtink, SVD menjadi dekat. Pada akhir pekan, kalau Pater Gerardus Huijtink, SVD ke luar kota untuk mengunjungi stasi-stasi, kunci kamarnya di Biara Santo Yosef diserahkan kepada Soekarno, yang boleh memanfaatkan perpustakaannya selagi dia bepergian.
Bung Karno bertekad membentuk kelompok tonil karena ia tidak tahan hidup sendirian tanpa pengikut seperti di Jawa. Setelah Kelimoetoe Toneel Club dibentuk dan latihan-latihan menghapal teks mulai dijalankan, barulah timbul kesulitan di mana drama karya Bung Karno, seperti Dr. Sjaitan, Koetkoetbi, Aero Dynamite, Amoek, Rendo, Rahasia Kelimoetoe, Jula Gubi, Anak Haram Djadah, Maha Iblis, Sanghai Rumba, Gera Ende, dan Indonesia ’45 dipentaskan. Di tengah kesulitan itulah, Bung Karno bertemu dengan Pater Huijtink, SVD. Meski bertongkat komando, wajah Bung Karno agak lesu (cerita seorang saksi mata). Pater Huijtink, SVD bertanya apa yang menjadi soal. Pater Huijtink, SVD langsung menawarkan bahwa di Santo Yosef ada gedung Immaculata yang jarang dipakai.Tawaran ini langsung diterima dan ini menjadi awal dari pergaulan Soekarno yang hampir tidak putus-putusnya dengan para misionaris SVD di Biara Santo Yosef, termasuk menjalankan diskusi-diskusi berat tentang bermacam hal dengan para misionaris itu. Biara Santo Yosef menjadi terbuka untuk Bung Karno dan memang menjadi tempat inti bagi kegiatan-kegiatan intelektual Bung Karno sebagai seorang seniman panggung. Bung Karno sendiri menjadi seniman utuh. Dia sendiri menjadi penulis drama/tonil, menjadi sutradara untuk melatih para pemain yang kebanyakan tidak bersekolah. Kesulitan paling besar adalah bagaimana melatih seorang untuk “mati panggung”; bagaimana menahan napas supaya perut tidak turun naik di atas panggung.
Seluruh naskah tonil karya Bung Karno apabila dianalisis dengan seksama memiliki pesan moral, terutama pesan kemerdekaan. Misalnya dalam naskah Dr. Sjaitan yang terinspirasi dari kisah Frankenstein, tokoh utama “Boris Karloff” digambarkan sebagai orang yang dapat menghidupkan mayat dengan memindahkan organ-organ tubuh dari manusia lain dibantu kekuatan petir. Pesannya bahwa Indonesia yang diibaratkan tubuh yang sudah tidak bernyawa akibat penjajahan dapat bangkit dan hidup lagi.
Naskah tonil yang dibuat Bung Karno sebagian besar berkelanjutan, artinya naskah tonil tersebut seperti cerita yang bersambung. Contohnya dalam judul Koetkoetbi yang menggambarkan sebuah robot perusak yang membawa biang kesengsaraan pada manusia. Koetkoetbi inilah personifikasi sosok imperialis pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang menjajah Indonesia menurut Bung Karno. Nah, dalam naskah Aero Dynamite robot tersebut berupaya dihancurkan oleh sebuah dinamit yang besar. Dinamit tersebut merupakan personifikasi dari kekuatan rakyat yang bersatu padu menghancurkan imperialisme.
Selain menjadi sutradara, Bung Karno sendiri menjadi pelukis banner iklan. Bung Karno memerlukan tiang-tiang dan alat-alat panggung lain yang sangat dibantu oleh Bruder Lambertus, SVD. Semuanya ini sangat dibantu oleh Sekolah Pertukangan Santo Yosef. Ketika Bung Karno membutuhkan cat selain yang dibeli sendiri, Keuskupan Ndona menyumbang cat berwarna-warni yang diperlukan. Pater Huijtink, SVD – Pastor Paroki Ende – tokoh sangat menarik. Dialah yang pertama memberi bantuan kepada Bung Karno, dan menjadi sahabat yang sangat dihormati Bung Karno. Namun, persahabatan itu pulalah yang menarik perhatian pemerintah kolonial. Pemerintah memberi tugas kepada Pater Huijtink, SVD untuk “mengawasi” naskah-naskah drama Bung Karno, dan kalau perlu “mengedit” naskah-naskah itu agar tidak terlalu jauh menyinggung kemerdekaan Indonesia dan lain-lain, yang akan dilaporkan sebagai kegiatan politik Bung Karno dan pasti akan mendapat sanksi baru.
Namun, tidak ada bukti bahwa Pater Huijtink, SVD mengedit naskah-naskah drama Bung Karno; semuanya dibiarkan begitu saja sejauh menyangkut kreativitas Bung Karno. Mungkin dari pihaknya, Bung Karno sangat berhati-hati untuk tidak mempersulit mereka yang sudah sangat baik hati kepadanya. Karena itu, para pejabat pemerintah kolonial yang menjadi pelanggan tetap untuk nonton drama Bung Karno selalu keluar Immaculata kalau ada adegan yang terlalu menyinggung pemerintah kolonial, dan masuk lagi kalau adegan berganti.
Gedung Immaculata memiliki kapasitas 500 tempat duduk, termasuk memadai untuk mementaskan tonil. Penonton dikenakan karcis masuk apabila ingin menyaksikan tonil, peminatnya bukan hanya warga pribumi melainkan juga orang-orang Belanda. Akan tetapi sering terjadi kegaduhan yang dilatarbelakangi masalah tempat duduk. Ya, orang Belanda sering tidak terima apabila mendapatkan karcis tempat duduk di pinggir atau di belakang sehingga sering menghardik orang pribumi untuk mendapatkan tempat duduk yang strategis. Disinilah peran Bung Karno menengahi kegaduhan tersebut, ia tegas terhadap aturan pembagian kursi menurut karcis. Walhasil orang Belanda hanya bisa bersungut-sungut namun tetap mematuhi aturan tersebut saat ditengahi oleh Bung Karno. Apa yang luar biasa dari fakta ini ialah bahwa Bung Karno sama sekali tidak memiliki kecurigaan dan ketakutan pun terhadap para pastor tersebut berkaitan dengan perjuangan-perjuangan politiknya menentang Kolonial Belanda.
Dia begitu mempercayai keikhlasan persahabatan para misionaris SVD itu dengan dirinya. Seharusnya dia – dan itu adalah haknya untuk – berpikir negatif dan mencurigai para pastor itu sebagai mata-mata Belanda. Apalagi kalau dilihat dari pengalaman-pengalaman pahitnya bergaul dengan orang Belanda sejak kecil. Semua pengalaman itu menimbulkan rasa jengkel hingga memuncak pada kebencian dan permusuhan ketika ia masuk daftar “orang yang berbahaya” bagi pemerintah kolonial Belanda yang selanjutnya justru mengantar dia ke pembuangannya di Endeh.
Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya. Dalam diri para misionaris itu Bung Karno menemukan wajah Belanda yang lain. Wajah Belanda Kristen, wajah Belanda Katolik. Berhadapan dengan para misionaris itu Bung Karno merasa begitu aman dan menemukan kembali kebebasannya sebagai “Putra Sang Fajar”. Pada awal ketika sampai di Endeh ia menemukan dirinya seperti “elang yang telah dipotong sayap-sayapnya”. Bung Karno benar-benar merasa diri sebagai seorang buangan yang tak berdaya. Semangat juangnya terasa mati, Namun, lewat upayanya mengolah situasi pahit itu menjadi sesuatu yang bermakna positif, antara lain dalam perjumpaannya dengan para misionaris SVD itu, ia akhirnya menemukan sayap-sayap kebebasannya yang “dipotong” itu bertumbuh kembali, sehingga ia boleh terbang lagi dengan leluasa menjelajah cakrawala pikiran dan cita-citanya yang memang tak siapa pun sanggup memborgolnya.
Soal Gaji dan Makan Minum
Bagi sejumlah saksi hidup yang berkesan dari Bung Karno adalah sikap perjuangannya yang tidak kenal lelah, tidak cepat terpengaruh serta sikap pergaulannya yang tidak peduli kasih, kami sering makan bersama dengan hidangan yang sama sewaktu menjalankan masa buangannya Bung Karno memperoleh gaji 150 gulden dari Belanda atau seratus lima puluh gulden gaji hanya cukup untuk makan sebulan dan di tambah sedikit perbelanjaan untuk kegiatan Tonel Club.
Pada satu ketika Belanda menawarkan Bung Karno menjadi pegawai negeri penjajah yaitu guru besar di Surabaya dengan gaji menggiurkan 1000 gulden perbulan, Bung Karno langsung menolak tawaran itu tidak sengaja katanya tidak mau tegasnya. Daripada sendirian masuk surga lebih baik rame-rame ke neraka tambah Bung Karno menanggapi tawaran itu.
Pada kesempatan lain Bung Karno duduk minum dengan pengikutnya. Kepada para pengikutnya itu ditanyakan jenis minuman atau makanan ringan yang disukai hampir seluruh pengikut memilih roti mentega dan kue-kue sementara minumannya susu mendengar keberatannya itu Bung Karno hanya tersenyum jenis roti atau kue-kue dan susu bukan makan kita, kita harus bangga dan membiasakan diri dengan makanan atau minuman hasil kita sendiri ajar Bung Karno yang setiap pagi hanya minum air putih dengan beberapa potong papaya masak. Katanya air putih yang dingin berfungsi untuk mengembalikan secara pelan posisi jantung yang masih terbuka sedangkan pepaya matang untuk menyegarkan otak, Djae Bara, hlm.7.
Bung Karno Menuju Bengkulu
Pada tanggal 18 Oktober 1938 merupakan hari yang paling menyedihkan bagi para pengikutnya malam itu sekitar pukul 20.00 Bung Karno bersama keluarganya digiring kepelabuhan Endeh meski sangat dirahasiakan para pengikutnya ternyata sudah menunggu di pelabuhan Ende dari siapa mereka mengetahui hari itu merupakan kesempatan yang terakhir menemui Bung Karno yang akan berangkat untuk diasingkan ke Bengkulu, sebelum naik kapal Bung Karno minta waktu untuk menemui kerabat-kerabatnya dan Ia berdiri di tengah kemudian dikerumuni secara bergilir mereka memeluk dan mencium Bung Karno sambil membisikkan pesanan “jangan menjadi peminta-pemintah peraslah keringatmu untuk hidup bersama keluargamu” setelah itu Bung Karno membalik lalu pergi dan meninggalkan pengikut-pengikutnya itu sementara pengikutnya melepaskan kepergian Bung Karno derai air mata dan isak tangis histeris kecuali buku-buku yang dibawa serta seluruh harta kekayaannya Bung Karno lelang sesaat sebelum Ia meninggalan Kota Ende, harta kekayaannya itu ternyata selalu disimpan rapi dan melainkan dianggap sebagai benda keramat.
Sesudah Bung Karno berangkat maka tinggal pengikut-pengikutnya saja pada waktu itu Belanda hitam mulai korek cari jalan untuk menyusahkan kawan-kawan Bung Karno sebagai berikut ada yang dikasih masuk penjara ada yang dipukul, disiksa Azis Pelindi masuk bui, Djae Mohdar dimasukkan bui juga, Ibu Lano juga dimasukkan kedalam bui, Waru Sewoedi masuk bui. Djae Bara sebagai saksi hidup Bung Karno sekarang ini pernah dipukul dengan rotan lalu ditanyakan apakah kau ikut orang hukuman kau mau merdeka mana kamu punya kapal perang, kapal terbang, punya tentara mariner yang tanya dan pukul saya itu adalah Kapitan Roja yaitu Abubakar Inderadewa yang anti dengan Indonesia merdeka, Djae Bara, hlm.8.
Rumah dan Harta Peninggalan Bung Karno
Setelah 50 tahun kemudian pemerintah memugar rumah bekas tinggalnya Bung Karno rumah tersebut sejak tahun 1985 berubah menjadi Situs Bung Karno pemerintah juga berusaha untuk memungut kembali harta peninggalan Bung Karno, usaha itu mendapat sambutan positif dari penduduk Ende yang mana sedang menyimpan barang peninggalan yang ternilai berharga dan sejarah itu dengan senang hati mereka merelakan benda-benda yang terlanjur dianggap keramat itu untuk diserahkan pada pemerintah tanpa memungut bayaran sedikitpun atau ganti ruginya, sejumlah saksi hidup menyebutkan koleksi-koleksi yang masih tercecer antara lain sebuah fulpen, meja tamu berukir, kursi malas, sejumlah tongkat, sebuah lampu hias, 20 lusin piring, tiga rak buku dan sebuah tempat tidur sementara sebagian koleksi hanya berupa sepanduk atau lambang dari dokter Syaitan, Kutkutbi, Erodenamik, Amuk, Djulagubi, tombak penebus Ndokerua, pakaian Rendo dan perlengkapan lainnya dari tonel sudah diambil dan diangkat ke Jakarta tahun 1982 oleh Rachmawati Sukarno lima lambang buah tangannya Bung Karno sendiri.
Sedangkan koleksi situs saat ini berupa dua lemari, tiga tempat tidur, sebuah biola rusak, tujuh lembar foto, dua kursi, tiga piring hias, dua piring makan, tiga pasang kayu jepitan koran dan delapan naskah sandiwara peninggalan lainnya yang kini juga tersimpan di sana berupa selembar daster, kain pelekat gantungan pakaian, meja marmer, fulpen besar, lampu aladin, lukisan pura Bali, Djae Bara, hlm.8.
Ketika Bung Karno pindah ke Bengkulu barang-barang kepunyaan Tonel Kelub Kelimutu dikasih tinggal ditangannya Opnemeratmo Sidirjo sampai tentara Jepang masuk di Ende lalu saudara Ibrahima diadakan pemeriksaan mengenai barang-barang peninggalan itu ternyata sudah kurang sebagian atau sudah dijual oleh Saudara Atmo Sudirjo lalu pada waktu itu Saudara Ibrahima ambil alih semua barang-barang sisa miliknya Tonel Kelub itu, barang-barang itu seperti satu lambang ada cerita yaitu Dr. Syaitan, Kutkutbi, Eroninamik, Amuk dan Djulagubi dan beberapa pakaian Rendo, rambutnya serta tombak penebus Ndokerua dan satu rangka gendang, dua belas layer panggung ukuran gedung Imakulata itu.
Barang-barang sebagai peninggalan dari Tonel Kelub Kelimutu disimpan sebegitu rapihnya oleh Saudara Ibrahima, pada waktu lari dari tentara Jepang barang-barang itu dipikul dan dijunjung kemudian disimpan serta dijaga supaya jangan sampai dimakan rayap. Pada waktu lari saat gunung Ia meletus mereka lari masuk hutan dibawa serta dengan bungkusan tersebut dengan maksud dijaga agar jangan sampai kena basah oleh air, Djae Bara, hlm.13-14.
Persahabatan Sejati
Ketika dipindahkan dari Ende dan diberangkatkan ke Bengkulu, Oktober 1938, menurut cerita, Pater Huijtink, SVD berkata kepada Soekarno: “Nanti kalau kita bertemu lagi, saya akan menjumpai Toean sebagai Presiden.” Ketika pada tahun 1950, sebagai Presiden Bung Karno datang ke Flores, di Maumere ia bertemu dengan sahabat lamanya, Pater Bouma, SVD yang waktu itu sudah menjadi Rektor Seminari Tinggi Ledalero. Bersama dengan pastor-pastor yang lain dan 10 wakil Frater, Pater Bouma, SVD ikut dalam perjamuan dengan Bung Karno.
Pada tahun 1950 Presiden Sukarno tiba di Ende kira-kira jam 04.00 sore Beliau langsung bertemu dengan Bapak Haji Abdullah Ambuwaru waktu Beliau bertemu dengan Bapak Haji itu Bung Karno langsung minta rumah bekas pembuangannya lalu jawab Bapak Haji kalau anak mau ambil saja tetapi Bung Karno bilang bukan untuk pemerintah sekarang belum lengkap karena musolahnya belum ada, namanya waktu itu dari Bapak Presiden terhadap kawan-kawannya terlebih pada saudara Ibrahima yaitu Yayasan Jaya Yati Banda Gara atau Filsafat Kemenangan atau Gapura, Djae Bara, hlm.12.
Dan ketika tiba di Ende, Presiden Soekarno (Bung Karno) juga menyempatkan dirinya, di luar acara protokoler, berkunjung ke Biara Santo Yosef untuk menemui sahabat lamanya yang lain, yakni Pater Huijtink, SVD. Bung Karno diterima oleh Pater Antonius Thijssen, SVD yang saat itu adalah Regional Ende bersama Pater Huijtink, SVD. Pertemuan ini sempat diabadikan dalam sebuah potret bersama. Dalam pertemuan inilah, terjadi “penghapusan utang” sewa gedung Immaculata, yang tidak sempat dibayar oleh Bung Karno sampai ia berangkat dari Ende menuju Bengkulu, tempat pembuangannya yang baru.
Presiden Soekarno mengungkapkan kejadian ini dalam pidato pengukuhan ketika menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Muhammadiyah, di Istana Negara, 3 Agustus 1965. Dalam pidato berjudul “Tauhid adalah Jiwaku”, Soekarno mengatakan, “Kepada ummat Katolik saya juga mempunyai utang. Tatkala saya di Ende, Flores, saya banyak bergaul dengan Pastor-pastor. Satu di antara Pastor-pastor itu ialah Pastor Huijtink. Pastor Huijtink itu adalah administratur daripada gedung Societeit Katolik di Ende. Saya sering menyewa gedung Societeit Katolik di Ende itu. Untuk apa? Buat main sandiwara Saudara-saudara. Sewa. Nah, tapi maklum saja saudara-saudara, main sandiwara kadang-kadang rugi. Sehingga pada waktu saya diangkut oleh Belanda dari Ende pindah ke Bengkulu, saya masih berhutang kepada Pater Huijtink 70 gulden. Dan syukur alhamdulillah pula, tatkala saya beberapa tahun yang lalu berjumpa lagi dengan Pater Huijtink, saya minta diikhlaskan 70 gulden ini. Jadi sekarang tidak punya utang.”
Refleksi
Melalui napak tilas Bung Karno selama di Endeh mendorong kita dengan motivasi pendidikan seperti wisata sejarah lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 yang direnungkan oleh Bung Karno selama masa pengasingannya di Endeh, atau studi wisata seperti melakukan penelitian tentang pergerakan Bung Karno selama pengasingannya di Endeh untuk mencapai Indonesia merdeka dan benda-benda peninggalan Bung Karno beserta hasil karyanya di Endeh.
Olah pikir dalam permenungan dan olah tindakan dalam karya Bung Karno, secara implisit dalam napak tilas akan ditemukan realita anthrophoformisasi situs Bung Karno bukan saja sebagai tempat tinggal Bung Karno selama dalam pengasingan tetapi juga merupakan tempat untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, dan berdaulat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.***


Komentar