GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Uncategorized
Beranda » Berita » Guncangan 48 Gempa Susulan, Puluhan Keluarga di Terong dan Lamahala Kehilangan Tempat Tinggal

Guncangan 48 Gempa Susulan, Puluhan Keluarga di Terong dan Lamahala Kehilangan Tempat Tinggal

FLORES TIMUR, NTT – Kecemasan melanda warga di pesisir selatan Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Rentetan aktivitas seismik yang dipicu sesar aktif di darat melumpuhkan ketenangan warga di Desa Terong dan Desa Lamahala, Kecamatan Adonara Timur. Hingga Kamis (9/4/2026) pukul 05:40 WITA, pendataan sementara menunjukkan sedikitnya 78 bangunan warga mengalami kerusakan akibat guncangan berulang.

Bencana ini bermula dari gempa utama M4.5 pada Rabu (8/4) yang disusul guncangan signifikan pada Kamis (9/4) pukul 05:54 WITA (04:54 WIB) berkekuatan M3.8. Meski magnitudonya menengah, BMKG memberikan catatan merah pada kedalamannya yang sangat dangkal, yakni hanya 3 kilometer.

“Episenter berada di darat, 24 km Tenggara Larantuka. Karena kedalamannya hanya 3 km, energi yang dilepaskan langsung menghantam fondasi bangunan di atasnya,” tulis BMKG dalam laporan resminya.

Hingga pukul 06:40 WITA, aktivitas tektonik belum menunjukkan tanda-tanda berhenti dengan total 48 kali gempa susulan (aftershocks). Kondisi ini membuat struktur bangunan yang sudah retak pada guncangan pertama menjadi kian rapuh dan rawan roboh.

Wilayah Kecamatan Adonara Timur menjadi titik terdampak paling parah. Di Desa Terong, data sementara yang dihimpun redaksi mencatat 69 unit rumah mengalami kerusakan. Beberapa di antaranya milik Muhammad Nurdin (Rusak Berat), serta Amir Sanggaria, Abdullah Nurdin, dan Anwar Ibrahim yang masuk kategori Rusak Ringan (RR).

Lepas Peserta Kukerta UPG 1945 NTT, Gubernur Melki Dorong Peningkatan Kualitas Pendidikan di NTT

Berikut adalah daftar warga terdampak di Desa Terong:

Jahria Mahmud, Bahria Anwar, Rugaya Ahmad, Hasan Bethan, Muhidin Mado, Abdullah Tajudin, Umar Mahing, Burhan Muhammad, Ishak Bethan, Abdullah Umar, Ali Labala, Kelle Ibrahim, Tuto Laba, Nona Desmiyati BM, Daeng Rizki Alambayu, Suaib Suban Saman, Mustapa Usman, Padung Hamzah, Maryam Asi, Kopong Ibrahim, Arifin Harun, Zubaidah Bita Abdullah, Jamaludin Dasi, Selamat, Ismail Rahim, Saleha Rahim, Said Rino, Ahmad Bata, Muhammad Etta Nuhur, Abubakar Burhan, Somi Abdurahman, Andika Sahrun, Pohe Muhammad, Kamsina Ibrahim, Hajrat Mahing, Hasan Mahing, Bustamin Mahing, Endong Mamang, Endong M Koten, Mahmud Lamabelawa, Amir Masjudin, Bakril Sarimin, Abdurahman, Karim Husen, Sujono Alep, Syafrudin Badare, Abdurahman Muhidin, Syamsul Wahid, Arifin Sulaiman, Sulaiman Senen, Suaib Pohe, Marwah Abdurahman, Mansyur Pati, Abu Thalib Yusuf, Yusuf Alqifari, Taher Terri, Abdul Malik Ubanamang, Usman Jafar, Maruf Alrasyid, Subaidah Elias, Saimah Poni, Muhammad Taher, Do Syukur, Muhammad Nasir.

Sementara itu, di Desa Lamahala, kerusakan dilaporkan menimpa 9 rumah warga, di antaranya milik:

Husen BM, Ramadhan Ibrahim, Harun Hamid, Pua, Usman S. Wutun, Reni ST, Muhammad Ibrahim, Subhanallah RL, dan Mamang Lewonamang.

Sebagian besar warga memilih keluar rumah sejak subuh tadi karena trauma akan suara gemuruh yang menyertai setiap getaran.

Jelajahi Flores, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana Tebar Inspirasi lewat “Kemah Kerja Berdampak”

“Kami tidak berani masuk rumah. Setiap beberapa menit ada getaran kecil, dan kami bisa mendengar suara ‘krak’ di dinding,” ujar salah seorang warga Desa Terong melalui sambungan telepon.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat ke Kecamatan Adonara Timur untuk melakukan validasi data terhadap nama-nama yang telah dilaporkan.

“Fokus kami saat ini adalah perlindungan jiwa. Kami meminta warga di Lamahala dan Terong untuk tidak menempati ruangan yang sudah mengalami retak struktur. Tim sedang memetakan kebutuhan tenda darurat bagi warga yang rumahnya berkategori Rusak Berat,” ujar pihak BPBD Flotim.

Pakar geofisika mengingatkan bahwa fenomena ini adalah pengingat kerentanan tinggi Pulau Adonara terhadap sesar aktif darat. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian materiil diperkirakan terus meningkat. Guna memenuhi prinsip keberimbangan berita, redaksi berupaya menghubungi pihak BPBD Flotim dan Pemerintah Kecamatan Adonara Timur serta terus memantau portal resmi Pemerintah Kab. Flotim terkait perkembangan penanganan korban bencana Alam. (DS)***

Bupati Lembata Tegaskan Tidak Tolerir Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Desa Atuwalupang, Polsek Buyasuri Palang Lokasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *