GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Uncategorized
Beranda » Berita » Vatikan dari Timur: Menelusuri Jejak Portugis di Larantuka dalam Lantunan O Vos Omnes

Vatikan dari Timur: Menelusuri Jejak Portugis di Larantuka dalam Lantunan O Vos Omnes

Vatikan dari Timur: Menelusuri Jejak Portugis di Larantuka dalam Lantunan O Vos Omnes

Prosesi Jumat Agung (Sesta Vera) dalam rangkaian Semana Santa (Pekan Suci) di Larantuka kembali menyuguhkan momen sakral yang sarat nilai historis dan teologis. Di tengah ribuan nyala lilin, lantunan O Vos Omnes bergema sebagai puncak emosional bagi para peziarah, Jumat (3/4/26).

‎Nyanyian ratapan (lamentasi) dalam bahasa Latin klasik ini merupakan warisan suci misionaris Portugis dari Ordo Dominikan sejak abad ke-16. Berakar dari tradisi Responsori Tenebrae di Semenanjung Iberia tentang Terra de Santa Maria (Tanah Santa Maria). Melodi ini telah menghidupi spiritualitas masyarakat Larantuka selama lebih dari lima abad.Dalam tradisi Katolik setempat, O Vos Omnes dibawakan oleh seorang pelantun wanita pilihan yang dikenal sebagai Sira Panto. Mengenakan busana serba biru sebagai simbol duka, ia berdiri tegak sebagai representasi sosok Veronika, wanita mengusap wajah Yesus saat memikul salib menuju Golgota.

Pemilihan Sira Panto tidak dilakukan sembarangan. Pelantun haruslah sosok yang memiliki janji (Permesa dalam bahasa Nagi) atau promessa (dalam bahasa Portugis). Hal ini menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar pertunjukan vokal, melainkan tindakan tutur (speech act) sakral yang mengikat secara spiritual bagi individu maupun komunitas.

Tahun ini, amanah sakral tersebut dijalankan oleh Maria M. Dewi Embu Rau (31). Saat ditemui awak media PelitadesaNTT.com di kediamannya pada Rabu (08/04/2026), dirinya membagikan kedalaman batin saat menjalankan tugas tersebut.

“Di setiap Ecce Homo dibuka, saya merasakan hati saya sangat sedih. Apalagi pada momen saat mengusapi wajah Yesus sambil memutar badan perlahan ke arah umat. Saya ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa seperti inilah penderitaan Kristus menebus dosa kita. Air mata saya jatuh, saya menangis” ungkap Maria dengan nada haru.

Semarak Hari Bhayangkara ke-80: Polres Ende Gelar Turnamen Futsal Kapolres Cup 2026, Jaring Bakat dan Pererat Kemitraan

Momen Krusial: Saat Matracca Terhenti

Puncak dramatis ritual ini terjadi ketika bunyi instrumen kayu matracca (Kayu Pemanggil) dihentikan secara tiba-tiba. Dalam keheningan yang mencekam, suara melengking Sira Panto memecah kesunyian dengan bait pembuka:

O vos ómnes qui transítis per víam,
‎atténdite et vidéte:
‎Si est dólor símilis sícut dólor méus.
‎Atténdite, univérsi pópuli,
‎et vidéte dolórem méum.
‎Si est dólor símilis sícut dólor méus.


‎”Wahai kamu sekalian yang melintasi jalan ini, perhatikanlah dan lihatlah: Adakah kesedihan yang serupa dengan kesedihanku?”

‎Sambil melantunkan bait-bait dari Kitab Ratapan 1:12 tersebut, Sira Panto melakukan prosesi Ecce Homo (Lihatlah Manusia Itu) dengan perlahan membuka gulungan kain yang melukiskan wajah Yesus yang berlumuran darah ke hadapan umat.

‎Keaslian liturgi Semana Santa ini tetap terjaga berkat peran aktif Konfreria Reinha Rosari (Penjaga utama tradisi Semana Santa). Persaudaraan awam ini secara konsisten melindungi kemurnian tata cara ibadah dari pengaruh modernisasi, memastikan penggunaan bahasa Latin klasik yang berakulturasi dengan dialek lokal tetap lestari sebagai “arkeologi liturgi” yang hidup.

‎Dengan bertahannya tradisi kolosal ini, Larantuka terus mengukuhkan posisinya sebagai “Vatikan dari Timur” pusat spiritualitas yang mampu menyatukan nilai sejarah, linguistik, dan devosi dalam satu rangkaian prosesi yang megah. (DS)***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *