GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Uncategorized
Beranda » Berita » PANCASILA TIDAK SAKTI DI RAHIMNYA SENDIRI: Catatan Luka dari Bumi Flores

PANCASILA TIDAK SAKTI DI RAHIMNYA SENDIRI: Catatan Luka dari Bumi Flores

PANCASILA TIDAK SAKTI DI RAHIMNYA SENDIRI: Catatan Luka dari Bumi Flores

Opini ditulis oleh: Ejhi Serlenso

PELITADESANTT.COM – Hari ini, 1 Juni, bendera berkibar. ASN berbaris rapi. Pelajar menyanyikan Garuda Pancasila. Kita semua diminta khusyuk memperingati hari lahir ide yang lahir dari permenungan seorang Soekarno muda di pengasingan Ende, Flores.

Flores. Ende. Rahim Pancasila.
Tempat di mana gagasan “Persatuan Indonesia”, “Keadilan Sosial”, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” pertama kali mengendap di kepala Bung Karno. 20 tahun sebelum pidato 1 Juni 1945, justru di tanah pembuangan inilah Soekarno menemukan cita-cita bangsa.

Ironi-nya: rahim itu sendiri hari ini masih terasa dingin.

Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila, Wagub Johni Asadoma Tekankan Semangat Pelayanan dan Peningkatan Kinerja ASN

1. Ketika Sila ke-5 Tinggal Slogan di Papan Nama

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Sila kelima. Butir-butirnya indah dibaca saat apel. Tapi di NTT, terutama Flores, Lembata, Alor, Sabu, Rote, rasa “adil” itu sering datang terlambat.

Sejak merdeka, NTT hampir selalu bertahan di papan bawah kemiskinan nasional. Presiden ganti, Gubernur ganti, pola-nya mirip: kita tetap jadi “anak terakhir” dalam pembagian kue pembangunan.

Data 10 tahun terakhir soal Proyek Strategis Nasional PSN bikin miris. Negara gelontorkan ±Rp3.600 triliun untuk PSN. NTT? Kebagian Rp4 triliun. 0,1%. Seolah NTT hanya dapat remah-remah dari meja makan besar Indonesia. Politik anggaran pusat memang belum berpihak. Padahal sila ke-5 menuntut pemerataan.

2. Keadilan Energi: Kami Masih Setia pada Kayu Bakar

Bupati Sikka:  Jadikan Pancasila Sebagai Ideologi Yang Hidup

18 tahun lalu, konversi minyak tanah ke gas 3 kg berjalan di Jawa, Sumatera, Kalimantan. Kompor + tabung dibagikan gratis. Rumah tangga miskin di sana bisa masak lebih cepat, lebih bersih.

Di NTT, terutama desa-desa di Flores dan Timor, banyak rumah tangga “miskin ekstrem” tidak kebagian. Kami masih memanggul kayu bakar ke bukit. Asap masuk paru-paru. Angka pneumonia dan ISPA di anak-anak tetap tinggi.

Sila ke-2: “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Kalau beradab berarti manusia tidak terus-menerus hirup asap saat masak nasi, lalu di mana letak keadilannya untuk ibu-ibu di Manggarai Timur atau Sumba?

3. Harga Beras, Harga Diri

Di Jawa, beras 1 kg mungkin Rp13-14 ribu. Di Ende, Kupang, Ruteng? Rp18 ribu sudah “normal”. Selisih Rp4-5 ribu per kilo. Bagi ASN mungkin kecil. Bagi petani, buruh harian lepas, nelayan? Itu selisih makan siang anak mereka.

Takarannya Bukan di Bumi, Tapi di Surga”: Kisah Nardy Jaya, Jurnalis yang Memeluk Kaum Rentan di Manggarai Timur

Distribusi, logistik, ongkos kapal laut jadi alasan klasik. Tapi 79 tahun merdeka, masa kita masih terjebak logika “NTT kepulauan jadi mahal”? Sila ke-5 bicara kesejahteraan. Kesejahteraan kok rasanya seperti barang impor yang pajaknya mahal sekali untuk kami.

4. Tanah Adat, Air Mata, dan Negara yang Diam

Mafia tanah bukan cerita baru. Tanah adat dicaplok, sertifikat “siluman” muncul, masyarakat digusur paksa. Yang paling menyakitkan: kadang aktor negara ikut main. Ada oknum polisi, tentara, jaksa, ASN yang “mepan sogok” dan jadi beking.

Sila ke-2 dan ke-5 dilanggar telanjang. “Kemanusiaan yang Adil” dan “Keadilan Sosial” kalah telak oleh setumpuk uang dan stempel. Negara diam. Masyarakat adat NTT menangis. Tanah adalah identitas, bukan cuma komoditas. Kalau tanah diambil, sejarah keluarga ikut terkubur.

5. Bencana Datang, Mitigasi Tertinggal

Gunung meletus Lewotobi, banjir bandang, longsor, angin ribut, kekeringan panjang, kebakaran lahan. Semua ada di NTT. Kami juara bertahan bencana.

Tapi mitigasi? Sistem peringatan dini? Relokasi permukiman rawan? Masih jalan di tempat. Setiap kali bencana, kami dapat bantuan. Terima kasih. Tapi kami butuh lebih dari karung beras dan tenda biru. Kami butuh negara hadir sebelum bencana, bukan sesudah viral.

Akibatnya? Napas makin sesak. Anak muda frustasi, sebagian jadi “preman” di rantau, sebagian menyerah pada kemiskinan ekstrem. Angka bunuh diri yang dulu tabu, kini pelan-pelan naik. Itu jeritan paling sunyi dari orang yang merasa Pancasila tak sampai ke dapurnya.

Lalu Untuk Apa Kita Baris Apel Pagi Ini?

Saya tidak anti upacara. Saya cinta Indonesia. Saya juga cinta Pancasila. Justru karena cinta, saya marah.

Pancasila bukan jimat yang otomatis sakti begitu dibacakan. Pancasila itu kerja. Kerja nyata anggaran, kerja nyata kebijakan, kerja nyata keberpihakan.

Soekarno menemukan Pancasila di Ende saat terbuang, saat miskin, saat tidak berdaya. Dari rahim penderitaan lahir gagasan besar. Hari ini, di rahim yang sama, gagasan itu seperti anak yang lahir prematur: butuh inkubator, butuh ASI kebijakan, butuh pelukan negara.

Kalau 1 Juni hanya jadi seremonial tahunan tanpa evaluasi “sudah seberapa adil NTT diperlakukan?”, maka maaf. Pancasila memang tidak akan sakti di rahimnya sendiri.

Penutup: Pulangkan Pancasila ke Ende

Pak Presiden, Pak Gubernur, para pengambil kebijakan. Pulangkan Pancasila ke Ende. Bukan dengan patung atau monumen baru. Tapi dengan APBN yang lebih adil. Dengan harga beras yang sama. Dengan gas 3 kg yang merata. Dengan perlindungan tanah adat yang tegas. Dengan mitigasi bencana yang serius.

Biar anak-anak Flores yang lahir hari ini, 20 tahun lagi tidak menulis opini seperti ini. Biar mereka menulis: “Pancasila lahir di Ende, dan di Ende jugalah kami pertama kali merasakan artinya”.

Hari ini kita baris rapi. Besok, mari kita kerja rapi. Untuk NTT. Untuk Indonesia yang benar-benar satu, adil, dan beradab.

“Karena kalau rahimnya sehat, anaknya pasti kuat. Indonesia juga begitu.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *