GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Branding Inspirasi Uncategorized
Beranda » Berita » Tedo Pare Uma Nggua : Tradisi Adat Masyarakat Ende Lio Memasuki Musim Tanam.

Tedo Pare Uma Nggua : Tradisi Adat Masyarakat Ende Lio Memasuki Musim Tanam.

🌐 ENDE – Dalam tradisi masyarakat Lio Ende Tedo Pare Uma Nggua merupakan suatu kebiasaan adat tradisi yang secara rutin dilakukan setiap tahun pada saat memasuki musim tanam ladang.

Masyarakat lio pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani ladang yang mana berladang merupakan kegiatan bercocok tanam yang diwariskan dari nenek moyang masyarakat Lio.

Masyarakat Lio Desa Mukusaki, Kecamatan Wewaria sebagian besar memiliki ladang sebagai tempat bercocok tanam, kegiatan menanam ini biasannya dimulai ketika
memasuki musim hujan atau sekitar bulan Oktober sampai Desember.

Tradisi Tedo Pare Uma Nggua dilakukan oleh Mosalaki dan Ana Kalo Fai Walu (penggarap) yang melalui beberapa tahap ritual sebelum menanam. Mosalaki memimpin atau membuka kegiatan menanam dengan ritual adat dan setelahnya baru bisa mulai menanam.Mosalaki

Mosalaki melakukan acara wela wawi leka nua pare sebagai bentuk persembahan kepada nenek moyang dan juga sebagai acara Ra Reba Pare yang adalah bentuk penghormatan kepada padi.Masyarakat. Masyarakat Lio meyakini Pare merupakan “wujud pengorbanan seorang wanita yang di kenal sebagai Ine Pare atau Ine Mbu (Ibu Padi)”.

Lepas Peserta Kukerta UPG 1945 NTT, Gubernur Melki Dorong Peningkatan Kualitas Pendidikan di NTT

Dalam tahap ini Mosalaki melantunkan pujian dan doa untuk padi dalam bahasa adat
Lio ( More Pare) : “Meta ngere lelu kela mbombe ngere bhoka rose, sa lisa kaka duna benu sa uma, bho salobo raka aeruma, sa pepa ma’e ba’e, sa wonga ma,e sowa, sa mboko ma, e poso”. Setelah itu dilakukan permohonan kepada nenek moyang untuk menjaga ladang kita,
menjauhkan dari hama dan penyakit serta memberi kesuburan kepada tanaman.

Masyarakat Lio memiliki pemahaman lebih tentang Ine Pare ( ibu padi) yang merupakan sosok seorang wanita yang dengan ikhlas memberikan tubuhnya untuk dikorbankan. Dalam keyakinan masyarakat lio wujud tubuh Ine pare yang dikorbankan adalah pangan lokal masyarakat Lio.

Adapun nilai sosial ( value) dari tradisi ini terlepas dari konsep hubungan antara
manusia dan Tuhan, antara Manusia dan Leluhur maupun konsep hubungan manusia dengan alamya itu tradisi ini menunjukan ikatan kekeluargaan, persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan sosial. Nilai yang sangat nampak dalam kegiatan tradisi ini adalah Nilai gotong royong antara sesama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *