GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Uncategorized
Beranda » Berita » Pendidikan Terancam di Wolomoni: Fondasi Sekolah Dijebol, Suara Rakyat Dibungkam Demi Proyek”

Pendidikan Terancam di Wolomoni: Fondasi Sekolah Dijebol, Suara Rakyat Dibungkam Demi Proyek”

“Pendidikan Terancam di Wolomoni: Fondasi Sekolah Dijebol, Suara Rakyat Dibungkam Demi Proyek”

ENDE, NTT – Sebuah insiden mengejutkan dan memicu kemarahan publik terjadi di Desa Niawula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wolomoni, yang seharusnya menjadi benteng pendidikan bagi anak-anak desa, sebagian dihancurkan secara paksa demi proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Aksi brutal ini tidak hanya merusak fasilitas pendidikan, tetapi juga melukai hati masyarakat dan tokoh adat setempat yang merasa dibohongi dan diabaikan.

Penghancuran Brutal

Pada Jumat (5/6/2026) siang, suasana damai di Wolomoni mendadak tegang. Sebuah ekskavator, alat berat yang seharusnya digunakan untuk pembangunan yang bermanfaat, justru didatangkan secara diam-diam. Tanpa mengindahkan penolakan keras dari warga dan kesepakatan sebelumnya, alat berat itu langsung diarahkan untuk menggali tanah di lokasi yang telah ditolak masyarakat sebagai tempat pembangunan KDMP. Untuk mencapai lokasi tersebut, pagar sekolah dijebol, fondasi ruang kelas dihancurkan, dan bahkan tiang penyangga ruang kelas pun dipotong secara paksa.

Foto-foto yang beredar menunjukkan betapa kejamnya aksi ini. Sebuah gambar memperlihatkan seorang pria berpakaian loreng dengan santainya memotong tiang penyangga ruang kelas, seolah-olah tidak ada nilai pendidikan yang harus dihormati. Ekskavator raksasa itu dipaksakan melewati sisi ruang kelas, meninggalkan jejak kehancuran yang pilu. Pagar sekolah hancur disapu alat berat, dan di salah satu sudut sekolah, fondasi digali dan dihancurkan agar ekskavator bisa lewat. Semua ini dilakukan demi mendirikan bangunan KDMP di belakang gedung sekolah.

House of Indonesiana: Membangun Talenta Kreatif Sikka untuk Kancah Global

Masyarakat dan Mosalaki Marah Besar

Kemarahan warga tidak terbendung. Seorang warga setempat, yang meminta namanya dirahasiakan karena khawatir akan dampak buruk, mengungkapkan kekecewaannya. “Ini kerja orang gila. Bayangkan, sekolah tempat belajar anak-anak pun dihancurkan demi KDMP. Mereka tidak mau dengar lagi suara kami masyarakat dan suara mosalaki (tokoh adat),” ujarnya dengan nada geram.

Menurut warga tersebut, masyarakat merasa dibohongi. Sebelumnya, pada 19 Mei 2026, telah diadakan pertemuan antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah kabupaten. Dalam pertemuan itu, masyarakat dengan suara bulat menolak pembangunan KDMP di lokasi tersebut. Penolakan ini bukan tanpa alasan. Warga khawatir pembangunan koperasi di lingkungan sekolah akan mengganggu proses belajar mengajar dan menghambat pengembangan sekolah di masa depan. “Kami tidak tolak program, tetapi kami tidak mau (bangunan KDMP) dibangun di lingkungan sekolah. Ke depan, sekolah pasti berkembang. Bangun tambah ruangan belajar, ruang guru, dan lain-lain, dan kalau lahan sudah penuh?” tanyanya, menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

Tuntutan Keadilan Menggema

Aksi penghancuran yang dilakukan secara sepihak ini sontak memicu reaksi keras dari warga. Mosalaki, para tokoh adat yang dihormati, juga menyatakan kemarahan besar atas tindakan yang dianggap tidak menghargai nilai-nilai adat dan kepentingan pendidikan. Hingga berita ini diturunkan, ekskavator yang digunakan untuk penghancuran tersebut masih disandera oleh warga di kompleks lingkungan sekolah. Masyarakat menuntut pertanggungjawaban penuh dari pemerintah dan pengelola program KDMP atas kerusakan yang telah terjadi dan pengabaian terhadap aspirasi mereka.

Era Baru Akpol 2026: Seleksi ‘BETAH’ Tegas Diterapkan, Polda NTT Buktikan Lulusan Terbaik Murni Prestasi!

Insiden ini menjadi sorotan tajam, mempertanyakan komitmen terhadap pendidikan dan partisipasi masyarakat dalam setiap proyek pembangunan. Warga Wolomoni kini menanti keadilan, berharap suara mereka didengar dan hak-hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak tidak lagi dikorbankan demi kepentingan sesaat.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *