Prosesi Bahari 2026: Menautkan Iman di Derasnya Arus Gonsalu
LARANTUKA, NTT – Arus Selat Gonsalu siang ini tidak sedang ramah. Pusaran airnya yang keruh tampak beradu kuat, menciptakan riak-riak tajam yang biasanya dihindari para pelaut. Namun, bagi ribuan peziarah yang memenuhi bibir pantai Flores Timur pada Jumat, 3 Maret 2026 deru arus itu justru terdengar seperti melodi pengantar doa.
Tepat pukul 12.00 WITA, saat matahari berada di puncak tertinggi, sebuah keheningan sakral menyelimuti pesisir. Di tengah kegarangan alam itulah, prosesi laut penjemputan “Tuan Meninu” (Yesus Tersalibkan) dimulai. Sebuah Berok—sampan kecil tanpa mesin—perlahan bertolak dari Pantai Kota (Sarotari) menuju Pantai Kuce (Lohayang), membelah air membawa peti suci dalam sebuah perjalanan batin yang menautkan keteguhan iman dengan takdir laut.


Bagi umat Katolik di Larantuka, Jumat Agung bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan momen introspeksi mendalam atas pengorbanan Kristus di kayu salib. Prosesi bahari ini menjadi simbol dramatis perjalanan jiwa manusia yang rapuh di tengah samudra dunia, namun tetap teguh karena tuntunan ilahi.
Kekhusyukan ini dikawal ketat oleh armada gabungan guna memastikan keselamatan peziarah prosesi laut.
Ratusan kapal motor nelayan bergerak dalam barisan yang rapi, menciptakan pemandangan kolosal di selat sempit tersebut. Di antara barisan perahu rakyat, tampak kapal-kapal patroli dari TNI Angkatan Laut (AL), Polairud, Basarnas, Dinas Perhubungan, dan pihak Syahbandar (KPPL) yang bersiaga penuh di titik-titik pusaran air paling berbahaya.
”Kami melakukan pengawasan berlapis dan memastikan seluruh armada mematuhi standar keselamatan pelayaran. Sinergi antara Syahbandar, TNI/AL, dan Basarnas menjadi kunci agar iman peziarah berjalan beriringan dengan keselamatan di laut” ujar otoritas keamanan pelabuhan setempat.
Tradisi yang telah berusia lima abad ini tetap menjadi urat nadi Larantuka. Saat peti Tuan Meninu akhirnya mendarat di Pantai Kuce (Lohayang), keheningan di laut segera berpindah ke darat.
Larantuka kini bersiap menyambut puncak prosesi lilin malam hari, membuktikan bahwa di tengah hantaman “ombak” kehidupan apa pun, iman adalah jangkar yang paling kokoh. (Ds)***


Komentar