Valentine Day dan Yustina–Cinta yang Tak Pernah Selesai
(Untuk Ibu Yustina Ema Payong)
Oleh Yurgo Purab
PELITADESANTT.COM – Rasanya terlalu cepat. Seperti katamu suatu waktu: “Ugo (Yurgo) ade-ade masih kecil,” ujar mama Yustina Ena Payong atau biasa dipanggil mama Yu.
Engkau keburu pergi saat hari valentine day, hari kasih sayang, Sabtu (14/2/2026). Engkau pergi sambil mengingatkan kami untuk saling mengasihi seperti engkau mengasihi kami semua.
Dalam hari-hari ini, kami berharap mukjizat Tuhan terjadi saat doa-doa kami makin akrab menyentuh langit.
Namun, engkau memilih pulang ke peluk bumi, dan menghembuskan nafas terakhirmu persis di depan suamimu, anak-anakmu, keluargamu dan cucumu.
Langit yang dalam dan laut yang teduh, engkau merangkul mereka yang tercerai berai jadi satu, menghimpun yang retak untuk dibentuk kembali.


Mama Yustina Ena Payong, seorang ibu yang tangguh, memikul tanggung jawab dan mencintai penuh seluruh. Doa-doamu membentang untuk anak-anakmu agar mereka sukses menenun mimpi dan merajut cita-cita.
Malam-malam panjang saat engkau merasa gelisah dan sakitmu mulai kambuh, rumah sakit adalah tempat pulang paling aman untuk tidur sesaat.
Meski mama tak bisa jalan, mama sempat datang ke rumah, saya sempat menggendong mama dan merasakan sedikit derita suamimu yang merawatmu. Saat air liurmu jatuh, saya coba melapnya, bercerita penuh kasih. Bagi saya mama Yustina orang tegas dalam prinsip tapi lembut dalam cara. Ia jujur mengatakan kebenaran meski terasa menyakitkan.
Terima kasih mama Yustina Ena Payong, untuk dua cucumu: Ludwig dan Mario. Saya meninggalkan Elyn sendiri saat kuliah lagi di Maumere. Dan sejak saat itu, Ludwig tinggal di rumah, di manja dan dipeluk mama. Tak ada kata kasar untuknya. Sementara, saat Mario lahiran, engkau juga masuk rumah sakit. Saya merasakan betul dilema suamimu, Venentius Berkama Kelen, antara menjaga mama atau anaknya yang akan melahirkan. Betapa hidup ini begitu sulit, tapi kita bisa lewati kan?
Kini mama memilih pergi, ziarahmu telah usai tapi cintamu tak selesai dikenang. Senyum dan tawamu telah dihapus dari wajah kami, tapi kisah hidupmu tak akan berakhir. Semoga Tuhan menjemput mama di pintu-Nya yang abadi salam dan doa kami semua, bahagia selalu di surga.
Mama pergi meninggalkan Elyn, Oca, Didi, Mia, Karlind dan Nokel. 6 bersaudara yang dirawat penuh cinta dan dibesarkan dengan air mata. Tak ada lagi luka, sakit untukmu.
“Ibu dikodratkan menderita dan mencucurkan air mata tak kala melahirkan, dan ayah menyayangi sejauh ia sanggup. Tapi itu bukan menjadi alasan saya membagi kasih dan memilih menghargai. Tetapi berkat bagi geliat ziarahku datang dari ayah dan getar untuk nasib jiwaku datang dari doa seorang ibu”


Komentar