GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Inspirasi
Beranda » Berita » Pemimpin Bergaya PENGUASA ? (Dux Styli Rectoris Auctoritarii)

Pemimpin Bergaya PENGUASA ? (Dux Styli Rectoris Auctoritarii)

Difficulty Listening, Compromising and Negotiating

Oleh : Elvis Gadi Kapo

Pelitadesantt.com – Gaya kepemimpinan “Penguasa” merujuk pada gaya Otokratis atau Otoriter, di mana pemimpin memiliki kendali penuh, mengambil semua keputusan tanpa melibatkan tim, menetapkan aturan ketat, dan mengharapkan kepatuhan tanpa banyak pertanyaan, seringkali efektif dalam situasi darurat atau butuh keputusan cepat, namun berisiko menurunkan motivasi dan inovasi tim dalam jangka panjang karena minimnya partisipasi bawahan.

Pemimpin Otoriter mengambil keputusan secara tunggal (top-down) dan tidak banyak melibatkan masukan bawahan.

Memberikan instruksi jelas dan mengharapkan kepatuhan mutlak.Sentralisasi dan wewenang sangat terpusat pada pemimpin.

Kepergian Anak Kita YBR Bukan Cuma Duka Bagi Keluarga dan Warga Ngada, tapi Menjadi Duka Nasional

Minim Partisipasi yang melibatkan masukan, saran serta opini bawahan sering diabaikan; bawahan dipandang sebagai alat.Bergantung pada Kekuatan Formal dengan mengandalkan posisi dan kekuasaan formal untuk memerintah. Penguasa dan Pemimpin, serupa tapi tak sama.

PENGUASA (ruler, dominator, possesor) asal kata kuasa, kata kerjanya menguasai (to rule, to dominate, to posses, to control).. dengan tangan besi dan telunjuk saktinya menguasai orang orang disekitarnya untuk tunduk pada kemauannya untuk mendukung mencapai tujuan dan cita-cita penguasa dan seringnya semena-mena memaksakan kehendaknya tersebut terhadap objek maupun orang yang dikuasainya, againts their will.

BEDA dengan PEMIMPIN (Leader).. asal kata pimpin (lead), kata kerja memimpin (to lead) dia memimpin orang yang berada disekitarnya untuk memimpin mereka kepada tujuan yang telah disepakati bersama, dengan suka rela.

Seorang pemimpin itu tidak menyuruh, namun mengajak dengan dia sendiri berada di posisi terdepan, memimpin, mengarahkan, dan mengkoordinir langkah orang-orang yang dipimpinnya. Dan sosok inilah yang kita harapkan bersama.

Seorang pemimpin sejati yang bijaksana dan mengayomi sehingga dicintai rakyatnya, ramah dan loyal sehingga disegani dan dihormati oleh sahabat sahabatnya, namun tegas dan keras sehingga ditakuti musuh-musuhnya.

​Dukung Ketahanan Pangan, Ibu-Ibu Bhayangkari Ranting Ndona Sulap Pekarangan Jadi Lahan Penghasilan dan Gizi

BEDA antara PIMPINAN dan PEMIMPIN.

1. Seorang PIMPINAN kebanyakan Otoriter sedangkan PEMIMPIN Demokratis,

2. Seorang PIMPINAN melihat masalah sebagai musibah yang akan menghancurkan perusahaan. Seorang PEMIMPIN melihat masalah sebagai kesempatan yang dapat diatasi staff yang bersatu padu, dan berubah menjadi pertumbuhan,

3. Seorang PEMIMPIN bisa mengayomi, duduk sama rendah Dan berdiri sama tinggi dengan siapapun, orang akan segan pada pemimpinnya sedangkan seorang PIMPINAN hanya akan menjadi JENDRAL bukan Bapak.

Jadi pemimpin itu di berikan amanah, atau di bebani amanah, bukan didapatkan, atau bahkan di beli. Seorang pemimpin menganggap jabatannya sebagai amanah, cobaan, bahkan ultimate test baginya. Beda dengan pimpinan yang menganggap jabatannya sebagai trophy, anugrah, atau mungkin an object to possess (sebuah objek untuk dimiliki, bisa dibeli, dirampas, atau digadai) sumbang pemikiran.

PELAYANAN WAITING ROOM RUMAH SAKIT UMUM ENDE PERLUH DIPERHATIKAN

Sebenarnya kalau dilihat secara tekstual, penguasa dan pemimpin tak punya konotasi apapun.Namun kalau kemudian dimasukkan bingkai kontekstualnya yang di situ melibatkan banyak pengalaman historis akan muncul bahwa penguasa berkonotasi cenderung negatif.

Mengapa secara tekstual begitu, karena penguasa berasal dari kata kuasa, tak ada value apapun. Misalnya, presiden memiliki kekuasaan, maka ia juga penguasa selain berfungsi memimpin rakyatnya. Artinya, penggunaan kata pemimpin atau penguasa pada dasarnya tergantung konteks yang dipakai. Jika menyangkut kekuasaan (dan memang kekuasaan diatur oleh konstitusi) otomatis akan ada sifat penguasa yang melekat pada orang yang diberi kuasa. Demikian juga pemimpin.

Maka itulah kemudian di konstitusi diatur agar kekuasaan tidak tak terbatas, agar sebagai penguasa dapat dikendalikan. Maka menurut saya, di diri seorang pemimpin melekat sifat penguasa, karena seorang pemimpin secara sah dibekali kekuasaan. Maka secara tekstual bedanya pada dimensinya. Secara kontekstual, ada ungkapan terkenal dari Lord Acton lebih kurang mengatakan “”Bahwa makin besar kekuasaan cenderung makin korup””.

Itulah sebab negara modern mengatur kekuasaan pemimpinnya, dan diikuti pembagian/pemisahan kekuasaan semacam trias politika. Jadi menurut saya pemimpin dan penguasa tak bisa dilepaskan dari diri seseorang yang diberi mandat kekuasaan. Hanya dalam menjalankannya ada yang agak kebablasan karakter kekuasaannya sehingga muncul contoh-contoh diktator.

Mari kita berusaha dari yang terkecil untuk bisa berani mengkritik kepemimpinan yang berjiwa penguasa. Bukan hanya berpangku tangan mengharapkan orang lain untuk mengisi role tersebut yang entah kapan akan datang. Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.Kalau bukan kita, siapa lagi..???? Kalo bukan sekarang, kapan lagi…???

Masyarakat umum khusunya orang muda dari sisi akademik memiliki peran dalam mengawal dan mengontrol gaya kepemimpinan penguasa yang otoriter. Menyuarakan untuk masyarakat disekitar kita dan lebih jauh lagi bagi agama, nusa dan bangsa kita.KITA PASTI BISAAAA….!!!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *