GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Branding Inspirasi
Beranda » Berita » Allah Membarui Relasi di Tengah Luka: Refleksi dari Indonesia dan Nepal

Allah Membarui Relasi di Tengah Luka: Refleksi dari Indonesia dan Nepal

Bulan Kitab Suci Nasional 2025
Penulis : P. Marianus Paulino Mada, SVD
(Guru SMAK Syuradikara, Ende)

Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 mengusung tema “Allah sumber pembaruan relasi hidup.” Tema ini mengingatkan kita bahwa Allah senantiasa ada untuk memperbarui hidup manusia. Ia menyembuhkan relasi yang retak, meneguhkan iman yang rapuh, dan membangun kembali persaudaraan yang tercerai-berai. Kitab Suci adalah kesaksian nyata bahwa Allah tidak pernah berhenti memperbarui umat-Nya.

Di tengah gema tema “Allah sumber pembaruan relasi hidup” yang diangkat dalam BKSN 2025, kita diundang merenungkan bukan hanya harapan atau idealisme, tetapi kenyataan nyata: banyak relasi hidup yang terluka. Situasi di Indonesia dan Nepal yang terjadi baru-baru ini menunjukan pengalaman keterlukaan. Luka-luka ini menyentuh iman, kemanusiaan, solidaritas—dan justru di sanalah kita sangat memerlukan Allah sebagai sumber pembaruan.”

Pengalaman Keterlukaan Nepal saat ini sedang diserang oleh situasi yang menimbulkan rasa sakit kolektif sekaligus keretakan sosial. Beberapa fakta mencerminkan kondisi keterlukaan : pertama, unjuk rasa besar-besaran yang dipicu oleh larangan media sosial, ketidaksetaraan ekonomi, dan kekecewaan generasi muda terhadap elit politik, memuncak dalam kerusuhan yang menelan ratusan korban dan meluluhlantakkan simbol-simbol pemerintahan. Kedua, dampak sosial dan ekonomi yang berat: distribusi barang pokok terganggu, harga-harga melonjak, pariwisata terpuruk, serta ketidakpastian politik yang mendalam. Ketiga, disorientasi identitas dan harapan di kalangan warga, terutama generasi muda, yang merasa suara dan aspirasi mereka tersisih, diabaikan, atau bahkan direpresi. Keterlukaan ini bukan hanya luka fisik semata tapi luka relasi: antara warga dengan negara, antara generasi, antara mereka yang memiliki akses dan yang tersingkirkan.

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi luka-luka relasi yang nyata: pertama Kasus-kasus intoleransi keagamaan yang muncul sepanjang 2025, seperti persekusi terhadap umat yang sedang beribadah menunjukkan bahwa hubungan antar umat beragama masih rentan terganggu. Kedua, dampak psikologis dan sosial pada kelompok rentan, khususnya anak-anak dan perempuan, yang menyaksikan atau menjadi korban langsung kekerasan intoleran. Rasa tidak aman, ketakutan, stigma, dan trauma menjadi bagian dari keseharian mereka. Ketiga, ketidakadilan struktural: kemiskinan yang belum tuntas di berbagai daerah, ketimpangan pembangunan di pulai Jawa dan di luar pulau Jawa, akses yang tidak merata terhadap layanan publik, dan kesenjangan sosial sebagai penyulut konflik atau ketidakpuasan masyarakat.

Diskusi Publik GEKIRA, Soroti Isu Kesehatan Mental dan Tantangan Sosial di Era Digital

Peran Kitab Suci Kesenjangan, ketidakadilan, ketidakpastian, kerapuhan dalam kepercayaan terhadap institusi merupakan luka sepanjang sejarah. Di sinilah Kitab Suci, menjadi sangat relevan: “Sabda Allah mengajarkan bahwa Allah selalu berpihak kepada yang lemah, yang tertindas, dan yang terluka. Relasi hidup sejati tidak dibangun di atas kekuasaan, dominasi, atau kepentingan, melainkan atas kasih, keadilan, dan kesejahteraan bersama.”

” Suara para nabi, khususnya Zakaria dan Maleakhi, yang menjadi bacaan utama BKSN 2025, meneguhkan hal ini. Nabi Zakaria mengingatkan bahwa bangsa Israel tentang menjalankan keadilan, kasih sayang, dan belas kasihan terhadap sesama, serta tidak menindas orang lemah. (Za 7:9-10). Nabi Maleakhi, di sisi lain, menegaskan bahwa relasi yang rusak lahir dari ketidaksetiaan dan ketidakadilan.”

Ia menyoroti hati bangsa Israel yang menyeleweng, umat yang melupakan perjanjian, serta praktik sosial yang menindas yang lemah. Namun Allah melalui Maleakhi menegaskan janji pembaruan: Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseroang yang menyayangi anaknya yang melayani dia (Mal 3:17).

Dari kedua nabi ini kita belajar bahwa kesetiaan pada Allah, keadilan bagi sesama, dan pemurnian hati merupakan awal dari pembaruan relasi. Membaca dan merenungkan Kitab Suci selama Bulan Kitab Suci Nasional 2025 menjadi ruang untuk menumbuhkan empati, keluar dari kepentingan diri, dan melihat penderitaan orang lain, serta menegakkan keadilan untuk membangun relasi yang sehat.

Kepergian Anak Kita YBR Bukan Cuma Duka Bagi Keluarga dan Warga Ngada, tapi Menjadi Duka Nasional

BKSN 2025 mengajak kita tidak hanya membaca Kitab Suci, tetapi juga menghidupinya dalam relasi sehari-hari: di keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat. Sabda Allah memampukan kita untuk berdialog, berdamai, serta merawat persaudaraan sejati.
Dalam terang 150 tahun misi SVD, kita belajar bahwa pembaruan relasi hidup adalah panggilan bersama. Allah, sumber pembaruan itu, bekerja melalui kita ketika kita berani membuka hati, mendengar Sabda-Nya, dan mewujudkannya dalam kasih yang nyata. (Red.)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *