APAKAT || MENGENANG PROF. DR. W.Z. JOHANNES
” Sang Pionir Sinar-X dan Bapak Radiologi Indonesia “
JAKARTA : PELITADESANTT.COM – Di balik kecanggihan teknologi pencitraan medis modern yang kita nikmati saat ini, terdapat jejak langkah seorang putra terbaik asal Pulau Rote yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Beliau adalah Prof. Dr. Wilhelmus Zakaria Johannes (1895–1952), ahli radiologi pertama Indonesia yang namanya kini abadi sebagai pahlawan nasional dan inspirasi bagi dunia kedokteran tanah air.
DARI TERMANU MENUJU STOVIA
Lahir di Termanu, Pulau Rote, pada 16 Juli 1895, W.Z. Johannes menunjukkan kecerdasan luar biasa sejak dini. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) Kupang pada tahun 1905 sebelum akhirnya merantau ke Batavia untuk menempuh studi di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera).
Meski masa studi normal di STOVIA adalah sembilan tahun, Johannes mampu menyelesaikannya hanya dalam waktu delapan tahun, meraih gelar dokter pada tahun 1920. Kecerdasannya ini menjadi modal utama saat ia memutuskan untuk mendalami bidang yang saat itu masih sangat asing di Indonesia: radiologi.
SPESIALISASI SINAR-X PERTAMA
Setelah lulus, Johannes bekerja di berbagai rumah sakit, termasuk di Palembang dan Batavia. Pada masa itu, teknologi rontgen atau sinar-X merupakan bidang baru yang sangat berisiko. Johannes menjadi orang Indonesia pertama yang mempelajari ilmu radiologi secara mendalam, bahkan melanjutkan studinya ke Belanda pada April 1952 untuk memperdalam manajemen rumah sakit dan perkembangan ilmu rontgen terbaru di Eropa.
Dedikasinya membuat beliau dikenal sebagai Bapak Radiologi Indonesia. Beliau bukan hanya praktisi, tetapi juga pengembang ilmu kedokteran yang krusial bagi diagnosis penyakit di masa pra dan pasca-kemerdekaan.
PERJUANGAN DI LUAR RUANG PRAKTIK
Johannes bukan sekadar dokter di menara gading. Ia aktif dalam organisasi sosial-politik dan kemanusiaan. Pemerintah Belanda pernah mencoba “menjinakkan” pengaruhnya dengan tawaran gaji tinggi dan kedudukan strategis, namun ia menolak mentah-mentah. Sebaliknya, ia bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Bakti Mulia untuk merawat rakyat sekaligus menggalang dana perjuangan kemerdekaan.
Setelah pengakuan kedaulatan, ia dipercaya menjabat sebagai Rektor Universitas Indonesia (UI) yang pertama di masa kemerdekaan, dengan tugas berat membangun kembali universitas yang terbengkalai akibat perang.
Prof. Dr. W.Z. Johannes wafat di Den Haag, Belanda, pada 4 September 1952 dalam usia 57 tahun saat sedang menjalankan tugas belajar. Jenazahnya dipulangkan dengan kapal Mojokerto dan dimakamkan di Jati Petamburan, Jakarta Pusat.
Atas jasa besarnya, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia melalui Keppres No. 6/TK/1968 pada 27 Maret 1968. Namanya kini diabadikan sebagai RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Nama salah satu jalan utama di Kota Kupang.
Nama kapal perang TNI Angkatan Laut (KRI Wilhelmus Zakaria Johannes). Kisah hidupnya mencerminkan integritas seorang ilmuwan yang tak gentar menghadapi risiko teknologi baru demi kemanusiaan dan kedaulatan bangsa.
Sumber Referensi Resmi:
Profil Pahlawan Nasional di Laman Resmi Museum Kebangkitan Nasional.
Arsip Sejarah Kedokteran melalui Departemen Radiologi RSCM.
Data Biografi Pahlawan Nasional Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Penulis: Redaksi Sejarah & Sains


Komentar