GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Uncategorized
Beranda » Berita » DPRD Sikka: Stop Proyek Fisik, Alihkan Anggaran untuk Selamatkan Gaji Nakes Rp600 Ribu

DPRD Sikka: Stop Proyek Fisik, Alihkan Anggaran untuk Selamatkan Gaji Nakes Rp600 Ribu

DPRD Sikka: Stop Proyek Fisik, Alihkan Anggaran untuk Selamatkan Gaji Nakes Rp600 Ribu

MAUMERE, NTT – Tekanan terhadap pemerintah daerah menguat, DPRD minta prioritas anggaran dialihkan untuk kesejahteraan tenaga kesehatan dan guru

Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Sikka berlangsung tegang. Sorotan utama tertuju pada rendahnya penghasilan tenaga kesehatan (nakes) yang hanya sekitar Rp600 ribu per bulan—angka yang dinilai jauh dari layak.

Dalam forum tersebut, Benediktus Lukas Raja, anggota DPRD Sikka dari Fraksi PDI Perjuangan, menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar teknis, melainkan menyangkut keberpihakan anggaran. Seluruh program pemerintah, termasuk pembayaran gaji dan insentif, pada akhirnya bergantung pada satu hal: ketersediaan anggaran.

Dalam penyampaian yang cukup keras, kondisi fiskal daerah bahkan diibaratkan seperti perusahaan yang berada di ambang krisis.

Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran atas ketidaksiapan pemerintah daerah dalam mengelola tekanan anggaran, terutama di tengah tuntutan pembiayaan sektor vital seperti kesehatan dan pendidikan.

DPRD juga menyinggung kemungkinan kesalahan dalam penganggaran, di mana pembayaran kepada tenaga honorer, termasuk nakes, tidak masuk dalam skema gaji, melainkan dikategorikan sebagai insentif dalam belanja barang dan jasa.

Kondisi ini dinilai berdampak pada ketidakpastian hak yang diterima tenaga kesehatan.

Jelajahi Flores, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana Tebar Inspirasi lewat “Kemah Kerja Berdampak”

Untuk keluar dari tekanan fiskal, DPRD mendorong pemerintah daerah, khususnya Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang dipimpin Sekretaris Daerah, agar lebih agresif meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dengan komposisi pejabat baru di sejumlah OPD strategis seperti Badan Pendapatan Daerah, Bappeda, dan BPKAD, DPRD meminta adanya terobosan nyata.

Dalam forum itu, muncul pula usulan tegas: menghentikan sementara belanja modal pada tahun anggaran 2026–2027 dan memfokuskan seluruh kemampuan fiskal untuk belanja pegawai, khususnya nakes dan guru.

Bupati Lembata Tegaskan Tidak Tolerir Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Desa Atuwalupang, Polsek Buyasuri Palang Lokasi

Namun konsekuensinya juga diakui terbuka. Pemerintah harus jujur kepada publik jika pembangunan fisik tidak dapat berjalan akibat keterbatasan anggaran.

Secara kelembagaan, DPRD menyatakan dukungan penuh terhadap upaya peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan. Mereka menilai kondisi gaji Rp600 ribu bukan hanya persoalan angka, tetapi menyangkut keadilan dan keberlangsungan pelayanan publik.

RDP ini menjadi penanda bahwa tekanan politik terhadap pemerintah daerah semakin menguat. Di tengah keterbatasan fiskal, pilihan kebijakan kini berada di tangan eksekutif: mempertahankan pola lama, atau melakukan perombakan besar demi menjawab tuntutan keadilan bagi para tenaga di garis depan pelayanan.(DS)***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *