Jadi Mitra Strategis, Pemkab Flores Timur Dukung Penguatan Kapasitas FPRB
FLORES TIMUR – Puluhan pegiat kemanusiaan menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Flores Timur di Aula Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) pada Jumat, 22 Mei 2026 pukul 09.00 WITA. Pertemuan lintas sektor ini digelar untuk mematangkan kolaborasi dalam memperkuat mitigasi bencana di tingkat akar rumput.
Musda tersebut dihadiri oleh 65 peserta yang merepresentasikan berbagai unsur pentaheliks, mulai dari instansi pemerintah, akademisi, pelaku usaha, lembaga non-pemerintah, komunitas lokal, hingga jurnalis. Dalam forum tertinggi ini, Liberius Langsinus resmi terpilih sebagai Ketua FPRB Kabupaten Flores Timur yang baru.
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Flores Timur, Yakobus Ara Kian, menegaskan bahwa FPRB merupakan mitra utama pemerintah dalam menanggulangi bencana, khususnya pada tahap pra-bencana. Pemerintah daerah berharap kepengurusan baru segera menyusun rekomendasi kerja strategis.
“Forum PRB ini kan merupakan mitra. Mitra utama pemerintah dalam penanggulangan bencana. Kalau sebelum terjadi itu bisa dilakukan mitigasi oleh forum ini,” ujar Yakobus.
Yakobus menambahkan, dokumen rekomendasi tersebut nantinya akan dipelajari oleh pemerintah dari aspek perencanaan. Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk mengupayakan dukungan dana demi keberlanjutan program kerja forum di lapangan, dengan menyesuaikan kondisi keuangan daerah.
Selain masalah administratif, pemerintah daerah menekankan pentingnya transfer pengetahuan langsung ke masyarakat. Target utama dari sinergi ini adalah terbangunnya kemandirian warga saat menghadapi situasi darurat.
“Minimal kita bisa memberikan edukasi kepada masyarakat sehingga masyarakat itu ke depannya kalau manakala terjadi bencana mereka bisa menolong diri sendiri untuk pertama kalinya,” kata Yakobus.
Persidangan Musda kali ini fokus membedah empat agenda besar organisasi. Rangkaian kegiatan dimulai dengan evaluasi laporan pertanggungjawaban program kerja periode 2022–2025, amandemen statuta organisasi, penyusunan rencana kerja strategis periode 2026–2029, hingga puncaknya adalah pemilihan pengurus baru.
Setelah resmi terpilih memimpin FPRB Flores Timur, Liberius Langsinus menegaskan bahwa orientasi pergerakan organisasi akan difokuskan pada tindakan cepat di lapangan dengan menjunjung tinggi asas kemanusiaan universal.
“Kemanusiaan itu bersifat final. Ibarat anak tenggelam di sumur, selamatkan dulu nyawanya tanpa perlu tanya alamat atau orang tuanya. Urusan administratif itu belakangan, yang utama adalah tindakan nyata saat orang sedang susah,” tegas Liberius.
Guna menyatukan potensi relawan yang tersebar di Flores Timur, Liberius mengusung filosofi pergerakan yang taktis dan mandiri. Ia menyadari bahwa forum ini digerakkan oleh kerelaan hati tanpa orientasi materi.
“Strategi kita adalah Bergerak, Menggerakkan, dan Tergerak. Kita harus siaga dan punya insting tinggi untuk langsung beraksi tanpa menunggu perintah. Karena ini panggilan kemanusiaan tanpa gaji, kekuatan kita ada pada kerelaan untuk saling mengajak dalam aksi nyata,” tambahnya.
Pers Ambil Peran Vital dalam Edukasi MitigasiKeterlibatan pers dalam struktur FPRB dinilai menempati posisi yang sangat strategis. Media massa tidak lagi sekadar menjadi pelapor peristiwa pascabencana, melainkan instrumen penting dalam memberikan edukasi publik sebelum bencana terjadi.
Perwakilan Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI), Djuwenchayanna Diaz, menyatakan bahwa jurnalis memiliki tanggung jawab moral untuk meredam kepanikan publik melalui produk jurnalistik yang valid.
“Tugas mendasar kami adalah menjadi perpanjangan tangan untuk mengedukasi masyarakat melalui pemberitaan yang sifatnya mitigasi atau pencegahan dini,” jelas Djuwenchayanna.
Sinergi yang kuat antara kepengurusan baru FPRB, pemerintah daerah, dan media massa diharapkan menjadi pondasi kokoh dalam membangun ketangguhan daerah.
Pemberitaan yang sejuk dan edukatif menjadi kunci utama agar masyarakat di tingkat tapak memiliki kesiapsiagaan yang matang.
“Media harus bisa menyajikan informasi yang sejuk, valid, dan edukatif, supaya masyarakat di tingkat akar rumput tidak panik melainkan tahu cara menyelamatkan diri secara mandiri,” tutupnya.***
Penulis & Editor : Redaksi PelitadesaNTT.com


Komentar