Jaga Keseimbangan Karang dan Rumput Laut, Undana dan Konservasi Indonesia Petakan Ekosistem Desa Kaliuda
SUMBA TIMUR – Tim Riset Perikanan (Fisheries Research Team) Universitas Nusa Cendana (Undana) berkolaborasi dengan lembaga Konservasi Indonesia melakukan survei ekosistem bawah laut di Desa Kaliuda, Sumba Timur, pada 19–23 Februari 2026. Riset terpadu ini difokuskan untuk menyusun basis data ilmiah (baseline data) guna memastikan aktivitas budidaya rumput laut masyarakat tidak mengganggu kelestarian terumbu karang.
Studi ini menjadi krusial karena Desa Kaliuda merupakan salah satu sentra ekonomi pesisir yang menggantungkan hidup pada rumput laut sekaligus memiliki kekayaan biodiversitas karang yang tinggi.
Sinergi Akademik dan Mitigasi Ekologis

Ketua tim proyek sekaligus peneliti rumput laut Undana, Welem L. Turupadang, S.Pi., G.Dip.Sc., M.Sc, menjelaskan bahwa survei ini bertujuan mengidentifikasi batas aman antara lokasi budidaya dengan ekosistem sensitif. “Kami melakukan analisis spasial untuk memetakan distribusi habitat dan menentukan jarak ideal agar aktivitas ekonomi warga tetap berjalan tanpa merusak struktur terumbu karang,” jelasnya.
Analisis spasial tersebut diperkuat oleh Septian Fahrul Wahid, peneliti yang saat ini menempuh studi di Korea Institute of Ocean Science and Technology (KIOST), melalui pendekatan Sistem Informasi Geografis (GIS). Pemetaan ini sangat vital untuk melihat interaksi antara kualitas perairan dan produktivitas rumput laut di wilayah tersebut.
Metodologi Berbasis Bukti (Evidence-Based)

Dalam pelaksanaan teknis, tim menerapkan standar ilmiah tinggi untuk mengukur kesehatan laut. Muhammad Farhan dan Sevanster Lakapu menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) untuk menghitung tutupan karang hidup. Sementara itu, La Suriadi melakukan sensus visual untuk mengukur biomassa dan komposisi spesies ikan karang, dibantu oleh Faldi Pinto sebagai roll master.
Aspek kualitas lingkungan juga dipantau secara ketat melalui pengukuran suhu, salinitas, dan pH. Tim bahkan mengambil sampel air untuk menguji konsentrasi mikronutrien seperti nitrat, nitrit, dan fosfat yang memengaruhi pertumbuhan thallus rumput laut. Peneliti Farid Mukhtar Riyadi menambahkan bahwa evaluasi terhadap teknik budidaya masyarakat menjadi bagian tak terpisahkan dari studi ini guna memastikan keberlanjutan ekologis.
Kolaborasi untuk Kesejahteraan Pesisir
Pendampingan dari Konservasi Indonesia yang diwakili oleh Prastiano Septiawan (Lesser Sunda Conservation Officer) dan Meldus Tami (Livelihood Coordinator) memastikan bahwa hasil riset ini selaras dengan strategi perlindungan kawasan dan pemberdayaan masyarakat.

“Riset ini bukan sekadar pengumpulan data, melainkan langkah revolusioner untuk menciptakan manajemen pesisir yang adaptif. Kami ingin kebijakan yang diambil nantinya benar-benar berbasis bukti ilmiah (evidence-based management),” ungkap pihak Konservasi Indonesia.
Melalui integrasi data ekologi dan analisis spasial ini, Undana dan Konservasi Indonesia berharap dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan ekosistem laut Sumba Timur dengan peningkatan taraf hidup nelayan lokal secara berkelanjutan. (Ing)


Komentar