Kanis Tuaq: Bupati (Rakyat) Lembata atau Bupati PLN/Geothermal?
Oleh Steph Tupeng Witin
(Penulis Buku “Lembata Negeri Kecil Salah Urus” (2016) dan Pendiri Oring Literasi Siloam)
PELITADESANTT.COM – Saya membaca dengan saksama Keputusan Bupati Lembata Nomor 163 tahun 2026 tentang Kelompok Kerja Pendamping Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Atadei 2×5 Megawatt. Surat Keputusan itu ditetapkan di Lewoleba pada 25 Februari 2026. Faktor yang diperhatikan adalah Surat General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) Nomor:0433/KIT.06.01/F43000000/2026 tanggal 25 Februari 2026, Perihal Permohonan Pembentukan dan Penugasan Kelompok Kerja (Pokja) Pendampingan Prakonstruksi Pembangunan PLTP Atadei (2×5 MW).
Fakta yang terbaca: Bupati Kanis Tuaq ini menghamba sahaya pada PLN dan menjadi pesuruh PLN untuk menghancurkan keutuhan hidup dan menodai kesakralan tanah Lembata. Pertanyaan sederhana: Kanis Tuaq ini memang Bupati rakyat Lembata atau pesuruh dan hamba sahaya Perusahaan Listrik Negara (PLN)? Nama-nama yang tertera dalam SK Bupati Lembata itu diduga kuat tidak pernah dihubungi sebelumnya. Hanya dimasukkan saja untuk melegitimiasi sebuah SK Bupati yang banyak bolongnya.
Memang, kerja yang tidak jujur itu akan terbuka kebusukannya sedari awal! Misalnya, Romo Deken Lembata, Sinyo da Gomez dimasukkan namanya sebagai salah satu pengarah tim Pokja Geothermal Lembata. Romo Deken Sinyo da Gomes terkejut karena tidak pernah dikomunikasikan lalu membantah dan meminta namanya dikeluarkan dari daftar itu. Bupati Kanis Tuaq lalu dengan enteng tanpa beban bilang: hanya sebuah kesalahan kecil. Memang kecil karena yang melakukan itu hanya bersandiwara sebagai hamba PLN. Andaikan pelakunya adalah seorang Bupati rakyat Lembata, kecerobohan itu tidak pernah akan terjadi. Fakta ini menarasikan betapa amburadulnya birokrasi penyusunan sebuah SK Bupati di “Negeri Kecil Salah Urus” ini. Maka semua hal dianggap kecil, sepele dan murah meriah. Urus sebuah SK Bupati saja sangat amburadul, bagaimana meyakinkan masyarakat bisa membangun Lembata dalam sisa waktu empat tahun? Memang berat sekali Lembata ini kalau tiap kali hanya omong impor ayam beku.
Jauh hari sebelum keputusan amburadul ini dikeluarkan, PLN yang sesumbar omong kosong besar dengan kebohongan selangit akan menghancurkan tanah dan kehidupan di Nubahaeraka dan Atakore, Atadei, sudah mengacaukan keutuhan hidup manusia dan ekologi yang mengandung semua jenis makhluk hidup yang selama berabad-abad menenun hidup rakyat Atadei. Politik pecah belah (devide et impera) ala mafia dan kolonial telah menghancurkan relasi kemanusiaan dan sosial yang dirajut orang-orang kecil dan sederhana di wilayah Atadei. PLN bersama antek-antek: ada ASN yang berperilaku lebih dari karyawan PLN, ada orang-orang kampung yang tiba-tiba jadi tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, ada jurnalis yang mengais tinja di ketiak PLN dan ada mantan anggota DPRD Lembata yang kesurupan mau mengajarkan orang Atadei untuk menanam kacang tanah dengan bantuan dana sisa-sisa tinja dari PLN. Perusahaan Listrik Negara sebagai representasi negara justru semakin memurukkan peran negara dengan memuntahkan kebohongan melalui mulut orang-orang yang dibayar untuk berbohong tentang surga geothermal sebagai energi terbarukan dan energi paling bersih. Omong kosong semua itu! Melubangi tanah saja sudah kotor, mau bersih dari lubang mana? Ada orang Lembata yang sebenanrnya tahu bahwa geothermal memiliki daya rusak yang sangat dahsyat bagi keutuhan ekologi tapi tidak bisa “buka mulut” hanya karena tiketnya dibeli oleh PLN.

Pertanyaan: apakah Kanis Tuaq itu bupati rakyat Lembata atau bupati PLN dan Geothermal memang sangat mengganggu kesadaran kritis dan nurani yang terjaga. Pikiran saya sangat sederhana: kalaupun geothermal itu proyek strategis nasional, bupati sebagai representasi birokrasi pemerintah hanya sampai pada tahap memfasilitasi ruang dan tempat agar PLN sendirilah yang membentuk dan merancang aktivitasnya. Peran pemerintah tidak sampai begitu jauh mengambilalih peran dan tanggung jawan PLN. Menurut saya, Bupati Kanis Tuaq sudah terlampau jauh mencampuri wilayah yang menjadi tanggung jawab PLN sampai melupakan bahwa tanggung jawab Bupati Lembata yang paling utama dan pokok adalah menjaga keutuhan tanah Lembata dan menjamin agar dari tanah dan ekologi yang utuh ini kesejahteraan rakyat bisa dirajut. Ketika Bupati Kanis Tuaq mengeluarkan SK Bupati tersebut, entah disadari atau tidak, dia sedang bersekongkol dan bersekoci dengan PLN untuk menghancurkan keutuhan tanah Lembata khususnya Atadei. Kecerobohan ini berlawanan dengan keberadaaanya sebagai Bupati Lembata. Bupati Kanis Tuaq sudah menyerahkan diri menjadi pesuruh dan hamba sahaya PLN untuk membohongi rakyat melalui proyek geothermal.
Fakta paling memalukan yang dipertontonkan Bupati Kanis Tuaq adalah memasukkan nama Deken Lembata sebagai pengarah dalam tim Pokja Geothermal Lembata. Jauh hari sebelum SK Bupati ini terbit, para Uskup Regio Nusa Tenggara telah menandatangani pernyataan menolak geothermal demi keselamatan manusia, keutuhan kehidupan dan keberlanjutan ekologi. Penolakan para Bapak Uskup ini tidak lahir dari ruang hampa dan pikiran kosong, apalagi kebohongan seperti yang selama ini getol dikampanyekan PLN dan antek-anteknya yang memang bersedia dibayar. Pendasaran dari beragam aspek sangat mendalam dan masuk akal. Bapak Uskup Larantuka telah menyampaikan hal itu dalam banyak kesempatan. Apakah Kanis Tuaq adalah satu-satunya orang Katolik di Lembata yang tidak tahu bahwa para Uskup Regio Nusra telah menolak geothermal? Apakah Bapak Bupati ini orang asing dalam Gereja Katolik?

Pertanyaan lebih menukik: mengapa memasukkan Deken Lembata sebagai salah satu pengarah tim Pokja padahal Kanis Tuaq tahu sebagai orang Katolik bahwa Deken Lembata tidak mungkin akan berlawanan arus dengan Uskup Regio Nusra? Ataukah Bupati Kanis Tuaq sengaja mengadudomba dan menciptakan politik “devide et impera” di dalan tubuh hierarki Gereja Katolik Keuskupan Larantuka? Nama Deken Lembata yang dimasukkan dalam tim Pokja Geothermal ini baru pertama kali terjadi di seluruh dunia dan hanya mungkin terjadi di Kabupaten Lembata. Bupati dan gubernur lain tidak akan meniru tindakan fatal dan memalukan dari Bupati Lembata ini karena mereka masih punya kesadaran yang waras.
Rakyat Menolak Geothermal
Hingga detik ini, sebagian warga Nubahaeraka atau Waiwejak rela menggadaikan martabat kemanusiaan dan tanahnya kepada PLN karena diduga memiliki pengetahuan yang sangat minim perihal dampak negatif dari geothermal. Di bahwa kolong langit ini yang namanya merobek tanah dan melubangi batu itu kehancuran. Apalagi perobekan tanah itu menggunakan alat berat yang tidak punya nurani seperti PLN dan antek-anteknya yang telah melubangi kesadaran dan nurnai mereka hanya dengan onggokan uang negara dan kapitalis yang menyembunyikan keserakahannya melalui institusi negara sekelas PLN. Saya percaya, kalau sebagian kecil rakyat yang menerima itu diberi penjelasan yang jujur, mereka akan berbalik menyerang PLN dan menolak proyek berdaya rusak masif ini. Saya dengar banyak sosialisasi dan penjelasan seputar geothermal hanya seputar alasan surga dan dampak positif. Proyek geothermal di daerah Jawa misalnya pasti sukses karena geografi dan ketersediaan lahan yang sangat memungkinkan semua itu bisa terlaksana. Alasan bahwa proyek geothermal membuka lapangan pekerjaan baru pun bohong karena SDM masyarakat kita mungkin hanya tulis surat, laporan lapangan dan angkat batu dan pasir lalu buang ke kali mati. Mungkin level tertinggi ya sopir dumtruck. Mau lebih apanya? Gajinya pasti level paling bawah dan rendah.
Fakta yang perlu diketahui adalah bahwa ketika ada satu dua orang menyerahkan tanahnya kepada PLN untuk dijadikan lokasi proyek, itu tidak berarti bahwa proyek itu otomatis berjalan. Hingga detik ini PLN tidak pernah menyosialisasikan analisis mengenal dampak lingkungan (Amdal) yang menjadi syarat utama sebuah proyek strategis nasional berskala besar sepertti geothermal ini. Para pengurus PLN ini tidak paham banyak juga tentang proyek geothermal karena orang-orang ini hanya urus uang dan susun-susun kertas di kantor. Mereka biasanya membayar orang-orang yang katanya ahli kehancuran alam untuk memuntahkan kebohongan dan keserakahan para konglomerat dan kapitalis yang sesungguhnya sedang berkuasa dan mengatur-ngatur negara ini sesuka hatinya.
Rakyat perlu diberitahu bahwa tanah mereka akan dihancurkan oleh para konglomerat dan kapitalis yang menitipkan uangnya melalui institusi PLN. Orang-orang ini ada dalam pemerintahan Prabowo-Gibran yang sedang berpesta pora dalam proyek makan siang gratis: nasi satu tumpuk kecil, sedikit sayur dan sekelumit daging atau ikan. Maka ketika rakyat memberikan tanahnya dibayar PLN sesungguhnya kita sedang menggadaikan hidup dan masa depan kita pada keserakahan segelintir penguasa yang sedang berpesta pora di tengah kondisi negara yang semakin tidak menentu. Ketika tanah telah kita gadaikan, apakah ada jaminan bahwa anak-anak kita masih berharap memiliki masa depan yang lebih baik dari kita yang hidup hari ini?
Mayoritas rakyat Lembata menolak proyek geothermal. Ini fakta tidak terbantahkan. PLN dan antek-anteknya terutama pada penulis bayaran tentu akan mengklaim bahwa proyek geothermal pasti terealisasi dengan mudah. Jangan dulu, bos! Orang Atadei beda karakter dengan orang Leragere dan Kedang. Kasus tolak tambang emas sangat jauh berbeda dengan kasus tolak geothermal di Atadei. Tapi seluruh rakyat Lembata mesti diingatkan bahwa tanah Lembata ini satu dalam keutuhan. Ketika satu bagian tanah Lembata itu tercabik dan terobek maka seluruh tanah Lembata harus merasa sakit bersama-sama. Ketika orang Waiwejak menyerahkan tanah dan proyek ini jalan, warga desa-desa sekitar Waiwejak harus bangkit, berontak dan berteriak menolak penghentian proyek geothermal ini karena dampaknya tidak hanya menimpa para pemilik tanah tapi semua wilayah dan desa-desa di sekitarnya. Semua orang harus bangkit dari tidur agar tdak terepresi dalam gebyar penipuan dan gelombang kebohongan yang dimuntahkan mulut orang-orang kita sendiri yang memang dibayar oleh PLN untuk berbohong. Kebohongan tidak pernah akan abadi. Buktinya, SK Bupati Lembata penuh kebohongan, manipulasi dan pencatutan nama-nama tanpa konfirmasi sebagai basis etika komunikasi.
Pemerintah Kabupaten Lembata khususnya Bupati Kanis Tuaq harus segera berbenah kesadaran sebelum diterjunbebaskan oleh PLN ke dalam lubang geothermal yang penuh kebohongan. Tambang adalah lubang yang digali oleh para pembohong. Rakyat Lembata tentu tidak tega bupatinya sampai terperosok ke dalam lubang kebohongan hanya karena kehilangan kesadaran dan terepresi dalam gelombang proyek strategis nasional.
Lembata punya potensi panas sinar matahari yang bisa dijadikan energi alternatif kalau perusahaan listrik negara sudah bangkrut dan beralih menjadi perusahaan lilin negara. Tapi jangan rusakkan keutuhan tanah Lembata dengan kebohongan energi terbarukan yang sengaja dulang-ulang hanya untuk sekadar memaksakan kebenaran. Kalau ada energi sinar matahari dengan kekuatan sangat signifikan, mengapa harus memaksakan menggali bumi untuk mencari panas yang tersembunyi di dalamnya dengan risiko dampak negatif yang menghancurkan kehidupan?
Rakyat adalah kunci utama dalam seluruh rencana dan proses peembangunan. Kekuatan rakyat ini mesti dibangun dengan kejujuran, kebenaran dan keadilan. Rakyat yang kuat dengan basis jujur, benar dan adil akan memungkinkan semua hal dapat berjalan dengan baik dan benar. Ketika rakyat dibohongi, ditipu dan diakali sejak awal, mereka akan memendam amrah penolakan yang dahsyat. Institusi dengan gelontoran uang sebanyak apa pun tidak akan pernah mampu menaklukkan kesetiaan dan komitmen rakyat.
Rakyat Atadei bukan sekadar sampel kebohongan PLN dan antek-anteknya. Wilayah ini telah berjasa melahirkan banyak intelektual yang tersebar di seluruh dunia. Tapi dalam kasus proyek geothermal, sebagian orang dari wilayah ini juga telah menjadi antek PLN yang bersekutu menyebar hoaks dan kebohongan tentang surga geothermal. Sebagian rakyat kecil terpesona lalu serahkan tanah, simbol kehidupan dan masa depan. Tapi lebih banyak orang Atadei yang tidak mudah dikibuli. Orang-orang ini khususnya di Atakore telah memahatkan komitmen mereka untuk menolak geothermal sampai titik darah terakhir. Orang-orang inilah yang mengajarkan kepada siapa pun bahwa bukan soal sukses atau gagal tapi kesetiaan berjuang sampai akhir. ***


Komentar