LESUGOLO : SIMBOL PANAS BUMI PERADABAN, MAGIS-RELIGIUS
APAKAH AKAN PUNAH ?
Oleh : Leonis Herman
PELITADESANTT.COM – Saya berterima kasih karena pada bagian pertama tulisan saya tentang Lesugolo : Simbol Panas Bumi Peradaban, Magis-Religius, mendapat tanggapan dari Bapak Yohanis Ndori (Mantan Camat Detukeli dan Sekretaris SATPOL PP Ende). Saya tidak mendapatkan langsung tanggapan tersebut, karena tanggapan beliau dimuat di salah satu Group WA, yang salah seorang anggota group mencoba mengkonfirmasi tentang tulisan saya bagian pertama itu.
Kutipan tanggapan beliau sebagai berikut : “Cerita sekaligus berita yang disampaikan penulis (Leonis) tentang keberadaa Air panas Lesugolo, luar biasa. Mengungkapkan peradaban dan mistis belum cukup memuaskan khususnya kepemilikan dan penjagaan. Masih dari satu sisi saja atau dari satu pihak saja.
Mungkin penulis keturunan Lise ana mamo Mali Rasi (Lise) juga campur Unggu, kedekatannya dengan Unggu itu membuat mendapat keterangan dari mosalaki AB saja. Saya masih ingat tahun 1997-an terjadi perebutan kepemilikan terhadap Lesugolo antara Lise dan Unggu.
Tempat pertemuan di Aula Camat Maurole. Beberapa tokoh adat mewakili Unggu tidak mampu memperlihatkan bukti-bukti sejarah . Karena itu mereka yang mewakili Unggu akhirnya berguguran satu demi satu terutama otak pembakaran lumbung padi orang Lise (tergelincir di got).

Yang lainnya adalah Riabewa dan juru bicaranya. Jadi tolong menulis lagi dengan narasumber dua pihak. Bukan untuk mempertentangkan tapi kebenaran sejarah. Batas tanahnya sampai belakang Kapela Nida di Nuamuri Desa Watunggere. Belum lagi beberapa keterangan dari mulut orang Nida asli di Maurole pernah berkata kepada saya bahwa Lesugolo memang kepunyaan orang Lise (Mamo Kewa Woda).
Termasuk tanah Bengepau”.
Pertama-tama penulis dengan tulus hati yang paling dalam, bermaksud menulis tentang
Lesugolo dan meluruskan sejarah yang selama ini dibelokan. Penulis bersyukur berasal dari
Keturunan Lise dan Unggu yang bukan abal-abal dan sebenarnya juga ada darah Nida juga,
(ana mamo Babo Kedo di Sa’o ria Tebelele-Watunggere).
Dalam Keturunan Lise seperti yang disebutkan oleh Bapak YN, keturunan kami mempunyai tugas sebagai Ria Bewa dalam jajaran keturunan Lise. Penulis tahu diri. Dari silsilah keturunan Lepe Mbusu, kami ini keturunan yang ke-23. Penulis tidak akan menjelaskan silsilah dari Keturunan Bapa dan Mama karena ini bukan forumnya.
Penulis juga tidak mau menulis tentang “noda hitam pencaplokan Lesugolo oleh saudara-saudara penulis dari Lise” karena pada tanggal 31 Desember 2020, penulis sudah berdiskusi selama 6 jam dengan “juru damai dan yang mengurus proses perdamaian” tentang Peristiwa Lesugolo dengan Eja Siprianus Sila (Suaminya weta Bertha Londa anak dari almarhum Bapak Frans Laka).
Penulis mendapatkan cerita yang “sungguh memalukan bagi orang Lise”. Komandan dari Ranggatalo (Lio Timur) adalah alm. Yulius Balu. Turajaji antara Lise dan Unggu pun terbukti. Pada tanggal 1 Januari 2021 dinihari, Yulius Balu meninggal dan jenasahnya diterbangkan ke Ranggatalo dan dikuburkan pada tanggal 6 Januari 2021.
Penulis akan mengutip jawaban WA dari Eja Sipri Sila setelah penulis mengabarkan bahwa Yulius Balu meninggal dunia, sebagai berikut : “WA tertanggal 5 Januari 2021, Jam 11:49 WITA : “ Maaf eja baru balas. Benar sekali informasi dari eja ini.
Saya sudah tahu satu hari setelah Yulius Balu meninggal dari eja Mathias Saka yang langsung ke rumah saya untuk berita ini, karena sebelumnya mereka berdua bertengkar ramai di FB. Itu sudah eja…demi eo ngaga ngura na….ma’e kai songi no’o ola na’u Babo/Mamo. Jaga umu kita no’o ola gare eo monge…ma’e pera mbe’o tau pama susi-dui….sedo-kedo”. (Apakah cukup jelas????).
Yang menjadi pertanyaan penulis : “sebagai seorang ASN, di manakah Eja YN pada saat kejadian itu?”. Sangat memalukan, jika Eja YN tidak melihat kejadian, tidak mengurus proses perdamaian, tetapi seolah olah berada dalam situasi kejadian dan mengurus proses perdamaian tersebut. Penulis sebagai salah seorang yang memahami ilmu Kebencanaan (Disaster), pada saat kejadian Lesugolo masih merantau di Timor Leste jadi tidak berada di tempat kejadian.
Penulis tidak mungkin akan menulis dan mau meluruskan sejarah yang dibelokkan tanpa mencari tahu kasus – kasus apa yang terjadi pada suatu obyek yang akan ditulis. Pertanyaan lain, selama menjadi Camat di Detukeli, Eja YN pernah berbuat apa yang membuat masyarakat di Kecamatan Detukeli tetap mengenang eja? Penulis masih ingat, Pengrusakan Bak Reservoir Air Minum di wilayah Murukanga Desa Kanganara, eja YN masih meminta bantuan penulis untuk berbicara dengan salah seorang “pemilik” di Nduaria. Akhirnya banyak penilaian miring masyarakat terhadap Camat karena “ketidakmampuan untuk negosiasi” dan juga sebagai “pemain”.
Jadi kesimpulan penulis untuk generasi muda Unggu dan Nida, “hati-hati” terhadap orang-orang yang membelokkan sejarah peradaban Unggu dan Nida. Unggu dan Nida adalah “weta-nara”. Ingat, ada batu besar di pintu masuk ke kompleks Rumah Adat Nida yang “bhisa” adalah Watu Ngadha. (Salah seekor anjing milik Babo Tola Si’a). Anjing Babo Tola Si’a bernama Ngadha mempunyai tugas untuk menjaga Mamo Nida (Weta doa eo Unggu). Ada banyak sejarah di Unggu yang penulis mau luruskan sebagai salah satu langkah dalam proses “pemulihan” dan “pengakuan” identitas Suku Lio yang “Asli”.
Untuk Eja YN, kalau mau “mendapatkan sejarah LIO, telusuri, jangan dengar dari penjual obat. Penulis saja, menelusuri, menemukan LIO selama 15 tahun. Saran saya, kalau mau berdebat tentang “kebenaran” LIO jangan hanya menjadi “manusia duniawi” tetapi berusahalah menjadi “manusia rohani”. (baca : Kitab Suci : 1 Korintus). Bicara LIO, bukan asal “ngobrol di warung kopi”. Ini jawaban penulis
Terhadap tanggapan dari Bapak Yohanis Ndori. Silahkan para generasi muda UNGGU dan
NIDA menilainya.

APAKAH LESUGOLO YANG EKSOTIK AKAN PUNAH?
Ini salah satu sudut panas bumi di tepi tiwu nggo lamba (wilayah ulayat Nida). Saat ini di tempat ini sudah tidak ada lagi dan berpindah dengan sendirinya di Sombulou (wilayah ulayat Unggu). Mengapa peradaban Lesugolo diprediksi akan punah?
Pada tanggal 28 Desember 2012, Menteri ESDM telah mengeluarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor : 3499 K/30/MEM/2012 Tentang Penetapan Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan Panas Bumi, Lesugolo – Lowogeru menjadi salah satu lokasi yang ditetapkan :

Sumber: Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) – esdm.ebtke.go.id
Sedangkan Perusahaan yang ditetapkan untuk melakukan Survey Pendahuluan adalah PT. Bumi Lesugolo Energi. Berikut ini data Perusahaan PT. Bumi Lesugolo Energi.
Bahkan pada tahun 2013, Kementrian ESDM juga mengeluarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor : 2492 K/30/MEM/2013 tentang Penugasan Survey Pendahuluan Panas Bumi Kepada PT. Bumi Lesugolo Energi di Daerah Lesugolo – Lowogeru, Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur. Apakah perusahaan yang bersangkutan sudah melakukan Survey Pendahuluan?? Hanya
Pemda dan Camat yang mengetahuinya.

Mengulangi pertanyaan Mosalaki Unggu, AB pada bagian tulisan pertama, mungkin hal inilah yang beliau maksudkan penulis selalu memonitor Lesugolo sebagai sebuah air panas peradaban yang mistis – religius. Akhirnya, cepat atau lambat segala

Peradaban Suku Lio akan punah. Simbol-simbol Peradaban SUKU LIO di Lepembusu sudah dicuri dan dijual ke Bali dan Jawa pada saat pengerjaan Menara Telkomsel, Danau Kelimutu khususnya Tiwu Ata Bupu dibiarkan “menganga”, Geopark Kelimutu, pada tanggal 8 Juli 2021 sudah dilakukan Webinar Laporan Pendahuluan.
Apalagi yang mau dibanggakan peradaban SUKU LIO??? Dengan demikian semakin lengkaplah Labelisasi “LIO NGONGO dan LIO BHONGO”. Coba perhatikan dengan lebih teliti, status PT. Bumi Lesugolo Energi. Akhirnya, sama saja dengan yang sudah lewat. Di sinilah, identitas SUKU LIO dipertaruhkan… para Mosalaki berebutan demi mendapat jatah honorarium dari Dana Desa berdasarkan UU no. 6 tahun 2014. Kepada siapa ana kalo fai walo akan mengadu???? Tei pati duna mea (Terima kasih).


Komentar