GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Branding Inspirasi Lifestyle Uncategorized
Beranda » Berita » MENGENAL LEBIH DEKAT KAMPUNG ADAT MUKUREKU NTT

MENGENAL LEBIH DEKAT KAMPUNG ADAT MUKUREKU NTT

Nggua Uta adalah Upacara adat yang merupakan ritual masyarakat Suku Lio termasuk kampung adat Mukureku yang biasanya dirayakan setiap awal musim tanam. Ritual ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sebuah kegiatan guna menyampaikan permohonan agar hasil perkebunan, pertanian dan tumbuh dengan subur.

Ritual Nggua Uta juga merupakan sebuah ritual wujud syukur masyarakat suku Lio kepada Du’a Lulu Wula Ngga’e wena tanah (Allah Penguasa Jagad) atas hasil panen yang diperoleh pada musim tanam sebelumnya. Ritual tersebut sebagai bukti kekayaan tradisi masyarakat adat Mukureku yang Meliputi Desa Mukureku & Desa Mukureku Sa,Ate sehingga perlu dilestarikan oleh Pemangku Adat dalam hal Mosalaki serta Anak Cucu & Generasi Penerus.

Untuk diketahui Tanah Adat Mukureku terdiri dari 16 orang yang semuanya diberikan kekuasaan oleh Kepala Suku & mempunyai Hak & Amanat untuk tetap menjaga Tanah Ulayat ini & tetap bekerja dalam menjaga warisan leluhur.
Jelas Kepala Suku Tanah Adat Mukureku Bapak Kanisius Seni.

Ritual ini dari perspektif ilmu komunikasi, khususnya analisis makna simbolik dan nilai sosial. Hasilnya, ritual adat Nggua Uta mengandung kekayaan nilai-nilai luhur yang positif dalam hidup bermasyarakat yaitu: nilai gotong royong, nilai tolong-menolong, dan nilai religius.

Lepas Peserta Kukerta UPG 1945 NTT, Gubernur Melki Dorong Peningkatan Kualitas Pendidikan di NTT

Nggua Uta merupakan ritual adat yang ditandai dengan upacara Rase Are, Lalu Keti Uta oleh mosalaki dan & ikuti ataupun disaksikan oleh penggarap Fai Walu ana Kalo.
Tujuan ritual adat ini yakni untuk memberi makan kepada para leluhur, menolak hama penyakit (tola bala) dan membuka lahan/ladang baru dalam sistem berladang suku Lio,” ungkap Bapak Antonius Nggali Salah Satu Mosalaki Mukureku Sabtu yang lalu.

Antonius yang juga salah satu pemangku adat di tanah adat Mukureku ini menuturkan bahwa ritual tahunan ini diwajibkan kepada seluruh penggarap,Fai walu ana kalo tanpa kecuali.

Sementara itu Bapak Kornelius Minggu Mengatakan Ritual ini menekankan kebersamaan dan kekeluargaan sebagai masyarakat adat yang hidup bergantung pada musim bertani dan berladang. Tradisi ini terus diwarisi setiap tahun sebagai bentuk syukuran dan permohonan kepada leluhur sebelum membuka lahan baru. Acara ini berpusat di rumah adat Mukureku

Ritual adat Nggua Uta disertai dengan larangan/pantangan adat (pire) yang wajib dituruti oleh semua penggarap. Setelah upacara Nggua Uta dilanjutkan dengan larangan adat (pire) selama dua hari.

Pantangan ini bertujuan agar para penggarap mentaati wejangan mosalaki sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan tradisi para leluhur juga saat untuk menyiapkan segala peralatan berladang. Karena ada larangan, maka ada sanksi adat (poi) oleh para mosalaki. Pantangan berupa tidak boleh sentuh dan petik daun, tidak boleh beraktivitas di kebun, tidak diperkenankan menjemur pakaian di luar rumah, menyapu halaman rumah serta memasak atau membakar di luar rumah.

Jelajahi Flores, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana Tebar Inspirasi lewat “Kemah Kerja Berdampak”

“Selain sanksi adat (poi), diyakini ada campur tangan para leluhur,” ucap Bapak Kanisius Seni selaku Kepala Suku.

Bapak Fransiskus Ratu salah satu Mosalaki & Sekaligus Kepala Desa Mukureku Sa, Ate menambahkan bahwa keterlibatan para ibu dalam memasak memiliki makna bahwa perempuan adalah rahim kehidupan (bumi) sehingga diyakini mendatangkan kesuburan, kelimpahan panen serta rejeki dalam keluarga.

Untuk diketahui Rangkaian acara adat Mukureku dimulai dari Tanggal 19 Oktober Teo Nggo, Tanggal 26 Oktober Rase Are Lalu Tanggal 27 Oktober Keti Uta & Tanggal 28 Oktober Nggua Uta ( Gawi Leja ) , Namun Rangkaian acara adat bukan saja selesai di Gawi Siang ( Gawi Leja ) Namun satu Minggu setelahnya ada acara Joka Are Keta & berselang satu Minggu berikutnya lagi Tu,u Tau Singi Wena.

Gawi Mukureku setiap tahun sudah menjadi kebiasaan Lepa Ka dengan orang Peibenga,Namun yang ikut Gawi bukan saja orang Peibenga tapi datang dari seluruh kampung tetangga.

Sedikit Gambaran Bahwa Kampung Mukureku yang telah Berusia kurang lebih 1000 tahun ini menyimpan banyak histori dari Keturunan Suku Lio yang berasal dari Ana Kalo yang Mendiami diPuncak Gunung Lepembusu , sedangkan kampung Mukureku berada tepat Kaki Gunung Lepembusu bisa dikatakan bahwa Kampung Mukureku titik awal untuk mencapai puncak Lepembusu & menurut cerita leluhur Bahwa Ana Kalo Sering Berkeliaran di sekitar Kaki Gunung Lepembusu yang termasuk dikampung Mukureku.

Bupati Lembata Tegaskan Tidak Tolerir Aktivitas Tambang Emas Ilegal di Desa Atuwalupang, Polsek Buyasuri Palang Lokasi

Eugenius Nusa Salah satu Tokoh Pemuda Mukureku Mengharapkan agar kegiatan acara adat Mukureku tetap berjalan lancar & aman sesuai dengan amanat dari leluhur agar kita tetap kompak & saling bekerja sama untuk maju leka nua Ola Mukureku.

Sementara itu Tokoh Masyarakat Mukureku Bapak Martinus Kapa berharap Acara adat ini bisa menjadi moment untuk silaturahmi & menjadi destinasi pariwisata kampung adat yang nantinya akan bisa meningkat Ekonomi masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *