GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Uncategorized
Beranda » Berita » Menggali Batas, Merajut Asa: Festival Philosophia Sapere Aude V Menginspirasi Dialog Lintas Batas Indonesia-Timor Leste

Menggali Batas, Merajut Asa: Festival Philosophia Sapere Aude V Menginspirasi Dialog Lintas Batas Indonesia-Timor Leste

Menggali Batas, Merajut Asa: Festival Philosophia Sapere Aude V Menginspirasi Dialog Lintas Batas Indonesia-Timor Leste

Kupang, 4 Juni 2026 – Perbatasan bukan lagi sekadar garis pemisah, melainkan jembatan perjumpaan yang kaya akan sejarah, budaya, dan kemanusiaan. Pesan inilah yang digaungkan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, saat membuka Festival Philosophia Sapere Aude (PSA) V di Kampus Penfui, Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA), Kamis (4/6) malam.

Festival yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA ini mengusung tema “Membangun Jembatan Dialog di Perbatasan: Indonesia dan Timor-Leste”.

Sebuah tema yang relevan dan mendalam, mengajak generasi muda untuk merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan kedua negara.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan apresiasi tinggi kepada Fakultas Filsafat UNWIRA atas konsistensinya dalam menciptakan ruang akademik yang tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong refleksi kritis terhadap persoalan nyata masyarakat. Ia menekankan bahwa perbatasan Indonesia dan Timor-Leste adalah ruang perjumpaan sejarah, budaya, bahasa, dan identitas yang telah terjalin jauh sebelum batas-batas politik modern terbentuk.

Semarak Hari Bhayangkara ke-80: Polres Ende Gelar Turnamen Futsal Kapolres Cup 2026, Jaring Bakat dan Pererat Kemitraan

“Negara boleh berbeda, tetapi masyarakat masih terhubung oleh akar budaya, relasi kekerabatan, dan memori bersama yang telah ada jauh sebelum batas-batas politik modern ditetapkan. Karena itu, kita belajar bahwa batas negara penting untuk menjaga kedaulatan, tetapi tidak boleh menjadi penghalang bagi kemanusiaan,” ujar Gubernur.

Gubernur menegaskan bahwa pembangunan kawasan perbatasan tidak cukup hanya dengan pagar, aturan, dan infrastruktur. Ia harus dibangun di atas fondasi dialog, saling pengertian, dan kepercayaan.

Komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk memperkuat kerja sama dengan Timor-Leste juga diwujudkan melalui pengembangan gagasan Free Trade Zone (FTZ) Indonesia–Timor-Leste.

“FTZ tidak boleh dipahami semata-mata sebagai kawasan perdagangan bebas. Lebih dari itu, FTZ harus menjadi instrumen untuk memperkuat hubungan sosial, memperluas ruang kerja sama, membuka peluang kesejahteraan, dan menghadirkan pusat-pusat pertumbuhan baru yang memberi manfaat bagi masyarakat di kedua negara,” tegasnya.

Senada dengan Gubernur, Wakil Dekan Fakultas Filsafat UNWIRA, RD. Theo Silab, memandang perbatasan sebagai ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai identitas dan kepentingan.

Dorong Inovasi Akademis, Bank Indonesia Kucurkan Beasiswa Riset Tugas Akhir bagi Mahasiswa Undana

“Perbatasan bukan hanya garis pada peta yang memisahkan negara. Perbatasan adalah arena perjumpaan bahasa, budaya, ekonomi, sejarah dan identitas. Di sana terdapat sekaligus peluang dan tantangan. Dari perspektif ini, membangun jembatan dialog berarti mengutamakan kehidupan bersama yang bermartabat. Dialog yang kita maksud tentu mesti berdasarkan etika,” jelasnya.

Rektor UNWIRA, RD. Dr. Stefanus Lio, SVD, menambahkan bahwa Festival PSA V adalah wadah refleksi kritis mengenai tantangan dan peluang hidup bersama di kawasan perbatasan.

Tema festival ini sangat relevan dengan konteks sosial budaya, geopolitik, dan visi UNWIRA, mengingat sejarah, budaya, bahasa, nilai-nilai kekerabatan, dan pengalaman kemanusiaan yang saling terkait antara masyarakat di Pulau Timor.Festival PSA V dimeriahkan dengan berbagai kegiatan akademik dan seni budaya, seperti lomba penulisan artikel jurnal, debat nasional mahasiswa, lomba tari kreasi, lomba paduan suara, lomba dramatisasi Kitab Suci, lomba stand kreatif, diskursus ilmiah, seminar tematik, serta konser musik dan pergelaran seni.

Partisipasi aktif dari komunitas seni, seperti Komunitas Sastra Dusun Flobamora, turut memperkaya festival ini.Eufrasia Samin dari Komunitas Sastra Dusun Flobamora mengungkapkan kegembiraannya dapat kembali terlibat.

“Kami senang dilibatkan dalam kegiatan semacam ini. Komunitas kami memang berpartisipasi sejak pelaksanaan Philosophia Sapere Aude pertama. Festival ini sangat membantu komunitas kami untuk diperkenalkan kepada masyarakat pembaca lebih luas, khususnya yang berada di Kota Kupang,” tuturnya.

Terobosan Peternakan NTT: 3.000 Dosis Semen Beku Sapi Unggul dari Kementan Siap Tingkatkan Populasi dan Mutu Genetik

Antusiasme juga terlihat dari para mahasiswa peserta lomba. Dela, mahasiswi semester dua Fakultas Filsafat UNWIRA, bersama kelompoknya menampilkan Tari Loro Nusa yang mengisahkan konflik hingga perdamaian di kawasan perbatasan.

“Kami mencoba menggambarkan peristiwa konflik dan perdamaian di perbatasan secara kreatif lewat tarian tersebut,” ujarnya.

Usai pembukaan, Gubernur Melki Laka Lena meninjau stand pameran yang menampilkan karya mahasiswa, komunitas literasi, pelaku seni budaya, serta berbagai produk kreatif. Ia berdialog langsung dengan peserta dan memberikan apresiasi atas kreativitas serta semangat kolaborasi generasi muda.

Melalui Festival Philosophia Sapere Aude V, diharapkan lahir gagasan, refleksi, dan inisiatif yang memperkuat dialog lintas batas, mempererat hubungan Indonesia dan Timor-Leste, serta mewujudkan kawasan perbatasan yang damai, produktif, dan sejahtera.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *