Oleh: Pater Steph Tupeng Witin, SVD
Yoh 1:29-34
Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Orang Israel sangat kenal dengan domba.
PELITADESANTT.COM – Banyak orang Israel yang menjadi penggembala domba di daerah subur sekitar Yordan dan danau Tiberias. Domba adalah binatang kurban dan selalu dipersembahkan di Bait Suci.
Musa mewariskan ritual korban kepada Yahwe berupa domba jantan yang tidak bercacat. Pengorbanan domba dilakukan untuk ritual Paskah Yahudi. Orang Israel menyembelih anak domba sebagai bentuk perjanjian dengan Tuhan.
Domba adalah binatang yang paling lemah. Ia tidak mengembik ketika dicukur bulunya dan tidak berontak atau melawan saat hendak disembelih.
Domba juga tidak pernah berkelahi seperti karakter binatang lainnya. Ia hidup damai dengan segenap makhluk hidup lainnya di bumi.
Domba adalah binatang penurut dan setia. Karakteristik domba inilah yang diterapkan Yohanes Ppada diri Yesus yang taat pada kehendak Bapa-Nya sampai wafat di salib.
Dalam Injil hari kita baca: Keesokan harinya, Yohanes melihat Yesus datang kepada-Nya dan ia berkata “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.
Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: kemudian dari padaku akan datang seseorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yoh 1:29-30).
Yesus adalah Anak Domba Allah yang menyerahkan diri dan hidup-Nya untuk membersihkan wajah dunia dan manusia dari noda dosa. Yesus bukanlah kuda perang atau serigala yang mencari mangsa atau rajawali yang terbang tinggi di langit jauh atau binatang buas lain yang mencabik-cabik dan mematikan kehidupan makluk lain.
Tuhan menyerahkan diri seperti domba yang tidak melawan ketika hendak dibawa ke tempat pembantaian demi keselamatan manusia. Kesaksian Yohanes Pembaptis ini dikuatkan dengan penglihatan Roh Kudus yang turun dalam rupa burung merpati.
Suara langit berseru:”Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dia itulah yang akan membaptis dengan Roh kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1:33-34).
Yohanes sesungguhnya menekankan bahwa anak domba adalah gambaran tentang ketaatan dan cinta kasih yang mencapai puncaknya di kayu salib dan Anak Domba yang menjadi simbol Hamba Allah yang menghapus dosa dunia.
Kata-kata Yohanes menarasikan kerendahan hati seorang saksi sejati. Yohanes sadar bahwa perutusannya hanyalah menyiapkan jalan. Dia hanya suara yang berseru-seru di padang gurun. Ia besar dalam peran tapi kecil di hadapan Dia yang kekal.
Yesus datang “sesudah” Yohanes dalam waktu, tapi “mendahului” dalam hakekat, sebab Dia ada sebelum dunia dijadikan. Bahkan dunia dijadikan oleh-Nya (Yoh 1:10)
Kita dipanggil menjadi saksi Kristus yang rendah hati seperti Yohanes. Kita harus bersaksi bahwa Yesuslah sumber pengampunan, harapan dan hidup baru.
Kita menjadi saksi-Nya melalui perkataan yang membangun harapan, sikap yang mengampuni menuju pertobatan sejati, dan perbuatan yang menarasikan kasih Anak Domba Allah yang setia dan rela berkorban hingga akhir.
Kiranya hidup kita menjadi kesaksian nyata yang mengantar banyak orang menuju kepada Anak Domba Allah. ***


Komentar