Hari Guru 2025, Pendidik di Sumba Timur Jadi Korban Kekerasan
SUMBA TIMUR, Pelita desantt.com – Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), ternoda oleh insiden kekerasan yang menimpa seorang tenaga pendidik. Seorang guru bernama Ludguirda Djami dilaporkan dipukul oleh seorang warga tak dikenal saat dalam perjalanan menuju SD Wairara, Kecamatan Mahu, tepat pada momen peringatan Hari Guru, (25/11/2025)
Kronologi Kejadian
Insiden memprihatinkan ini bermula ketika korban, Ludguirda Djami, sedang mengendarai sepeda motornya pada pagi hari. Ia membawa logistik berupa dus berisi makanan dan camilan untuk kegiatan di sekolahnya.
Menurut informasi yang dihimpun, kondisi sepeda motor yang dikendarai korban sedang tidak optimal. Ban depan motor tersebut dalam keadaan kempis atau pecah, memaksanya melaju dengan kecepatan rendah. Di tengah situasi rentan inilah, seorang warga yang identitasnya belum diketahui mendekati korban.
“Korban dipukul di bagian belakang tubuhnya (punggung) saat masih di atas motor. Nona (korban) kaget dan beruntung tidak jatuh,” demikian bunyi laporan yang diterima.
Korban tidak sempat bereaksi banyak saat aksi pemukulan terjadi, mengingat kondisi motornya yang tidak memungkinkan untuk menghindar cepat. Motif pelaku melakukan aksi kekerasan tersebut hingga kini masih misterius dan belum diketahui oleh korban.
Tindakan kekerasan terhadap pendidik, terlebih di Hari Guru yang seharusnya menjadi momen penghargaan, menuai keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Insiden ini dinilai sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan secara tegas melanggar hukum yang berlaku.
Pihak terkait dan masyarakat setempat kini mendesak agar kasus ini segera ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. Korban didorong untuk segera melapor ke Polsek terdekat atau pihak berwajib agar pelaku dapat diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Seruan keras pun dilayangkan kepada jajaran kepolisian daerah. “Mohon atensinya Bapak Kapolda Nusa Tenggara Timur terlebih khusus Bapak Kapolres Sumba Timur, untuk menangani atau menangkap pelaku,” bunyi seruan tersebut.
Pernyataan itu juga menegaskan prinsip bahwa kekerasan bukanlah sebuah solusi, dan menyerukan tanggung jawab kolektif untuk menciptakan lingkungan yang aman serta menghormati profesi guru.


Komentar