GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Uncategorized
Beranda » Berita » “TUHAN KADANG TERLAMBAT” Ide Inspiratif Homili Minggu ke-5 Prapaskah, Injil Yoh 11:1–45) 22 Maret 2026

“TUHAN KADANG TERLAMBAT” Ide Inspiratif Homili Minggu ke-5 Prapaskah, Injil Yoh 11:1–45) 22 Maret 2026

“TUHAN KADANG TERLAMBAT”
Ide Inspiratif Homili Minggu ke-5 Prapaskah, Injil Yoh 11:1–45) 22 Maret 2026

Oleh Robert Bala. Penulis buku HOMILI YANG MEMIKAT, Penerbit Ledalero, Tahun 2024

PELITADESANTT.COM – Tidak sering kita merasakan hal berikut. Kerap kita merasa Tuhan terlambat. Rasa terlambat itu bagi generasi 70 dan 80an dengan segera kita ingat akan lagu dari Benny Panjaitan: Terlambat Sudah Kau datang, padaku”.

Terlambat sudah dalam kacamata iman selalu kita kaitkan dengan pengalaman rohani. Kita sudah berdoa lama. Kita sudah berharap. Kita sudah menunggu. Tetapi keadaan seolah tidak berubah. Penyakit tidak sembuh. Masalah keluarga tidak selesai. Usaha tidak membaik. Doa terasa seperti tidak dijawab. Di masa puasa seperti ini atau dalam pengalaman rohani untuk mencapai sebuah tujuan kita pun berpuasa, tetapi yang kita minta pun tidak datang. Pertanyaan yang muncul di hati sering sederhana tetapi jujur: “Tuhan, Engkau di mana?”

Pengalaman itu juga dialami oleh dua perempuan dalam Injil hari ini: Marta dan Maria. Saudara mereka, Lazarus, sakit keras. Mereka mengirim pesan kepada Yesus, sahabat yang mereka percayai. Pesannya singkat, tetapi penuh harapan: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi sakit.”

DPP AKPERSI Bekukan SK dan Mandat DPD Provinsi Banten, Tegaskan Penataan Organisasi dan Komitmen AD/ART

Artinya jelas: datanglah segera. Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Yesus tidak langsung datang. Ia tetap tinggal dua hari lagi di tempat-Nya. Ketika akhirnya Yesus tiba di Betania, semuanya sudah terlambat. Lazarus sudah empat hari berada di dalam kubur.

Bagi orang Yahudi waktu itu, empat hari berarti satu hal: tidak ada harapan lagi. Marta bahkan berkata dengan jujur kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

Kalimat itu sebenarnya adalah doa yang sangat manusiawi. Doa yang mungkin juga pernah keluar dari hati kita: “Tuhan, kalau Engkau datang lebih cepat…” “Tuhan, kalau Engkau menolong lebih awal…” “Mungkin semuanya tidak akan terjadi.”

Namun kisah ini menunjukkan sesuatu yang penting: Yesus tidak pernah datang terlambat. Ia datang pada waktu yang tepat. Kadang Tuhan memang tidak langsung menjawab doa kita. Bukan karena Ia tidak peduli, tetapi karena Ia sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar.

Yesus berkata kepada Marta: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Lalu Ia berdiri di depan kubur Lazarus dan berseru dengan suara keras: “Lazarus, keluarlah!” Dan sesuatu yang mustahil terjadi. Lazarus yang sudah mati empat hari keluar dari kubur.

Wakili NTT ke Panggung Nasional, Mahasiswa Undana Siap Berlaga di The Icon Indonesia SCTV

Peristiwa ini memberi kita pesan iman yang sangat kuat: Apa yang bagi manusia sudah selesai, bagi Tuhan belum tentu selesai. Apa yang bagi kita tampak sebagai akhir, bagi Tuhan bisa menjadi awal yang baru.

Kadang Tuhan memang membiarkan kita masuk ke dalam “kubur masalah”: kubur kegagalan, kubur sakit hati, kubur keputusasaan, kubur kehilangan. Tetapi justru di tempat itulah Tuhan sering menunjukkan kuasa-Nya yang paling besar.

Karena itu kita bisa memegang satu keyakinan sederhana tetapi kuat: “Bagi manusia, sudah terlambat. Tetapi bagi Tuhan, tidak ada kubur yang terlalu tertutup.”
Ada sebuah kisah inspiratif yang sering diceritakan tentang seorang petani tua. Suatu hari keledainya jatuh ke dalam sumur yang sangat dalam. Petani itu mencoba menolong, tetapi sumurnya terlalu dalam. Ia akhirnya berpikir bahwa keledai itu tidak mungkin diselamatkan.

Ia lalu meminta tetangga-tetangganya datang dan membantu menimbun sumur itu dengan tanah, supaya keledai itu terkubur dan sumur itu bisa ditutup. Tanah mulai dilemparkan ke dalam sumur. Setiap sekop tanah jatuh ke punggung keledai it Awalnya keledai itu berteriak keras. Tetapi setelah beberapa saat, ia melakukan sesuatu yang mengejutkan.

Setiap kali tanah jatuh di punggungnya, ia menggoyangkannya turun, lalu menginjak tanah itu. Tanah yang seharusnya menguburnya, justru menjadi langkah untuk naik lebih tinggi.Sedikit demi sedikit, tanah semakin banyak. Dan tanpa disadari, keledai itu akhirnya berhasil naik ke permukaan dan keluar dari sumur. Yang tadinya dimaksudkan untuk menguburnya, justru menjadi jalan keselamatannya.

Personel Pos Terpadu Ops Semana Santa Kawal Ratusan Penumpang KM Wilis di Pelabuhan Ippi

Kadang hidup juga seperti itu. Ada banyak “tanah masalah” yang jatuh di atas kita. Kegagalan, kesedihan, penolakan, dan penderitaan. Tetapi di tangan Tuhan, bahkan hal-hal yang tampak mengubur kita bisa menjadi tangga untuk mengangkat kita lebih tinggi.

Karena itu jangan pernah kehilangan harapan. Jika hari ini hidup terasa gelap, ingatlah kisah Lazarus. Ketika manusia berkata, “sudah terlambat,” Tuhan masih bisa berkata,
“Keluarlah!”. Dan hidup baru pun dimulai.

Robert Bala. Penulis buku HOMILI YANG MEMIKAT, Penerbit Ledalero, Tahun 2024

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *