Undana Perkuat Resiliensi Mental Mahasiswa Lewat Kolaborasi Global dengan YKPAI-MCC
KUPANG, NTT – Universitas Nusa Cendana (Undana) mengambil langkah progresif untuk memproteksi kesejahteraan psikologis sivitas akademikanya. Melalui kolaborasi strategis bersama Yayasan Kerjasama Perdamaian dan Akademik Indonesia (YKPAI) dan Mennonite Central Committee (MCC), Undana merancang sistem pendukung kesehatan mental yang berfokus pada penguatan resiliensi mahasiswa dan dosen di tengah tekanan dinamika pendidikan tinggi.

Langkah positif melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) ini menandai transformasi kampus dari sekadar pusat keunggulan intelektual menjadi institusi yang peduli pada kesehatan holistik. Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa ketangguhan mental (resilience) adalah fondasi utama bagi mahasiswa untuk mencapai prestasi akademik yang berkelanjutan.
Bukan Sekadar Konseling, Tapi Penguatan Karakter
Berbeda dengan pendekatan klinis konvensional, program kolaboratif ini menitikberatkan pada upaya preventif. Mahasiswa dibekali dengan keterampilan mengelola stres, regulasi emosi, dan kemampuan bangkit dari kegagalan akademik maupun persoalan pribadi.

“Kesehatan mental bukan lagi isu sampingan. Di era ketidakpastian ini, kami ingin memastikan mahasiswa Undana memiliki ‘otot mental’ yang kuat. Kerja sama dengan YKPAI dan MCC memungkinkan kami mengadopsi standar global dalam pendampingan psikologis yang sensitif terhadap budaya lokal,” ujar Prof. Jefri dalam sambutannya.
Pembentukan Tim Kesehatan Mental Terpadu
Ketua Tim Health Promoting Unit (HPU) Undana, Dr. dr Nicholas E. Handoyo, M.Med.Ed dalam presentasinya menjelaskan tentang perkembangan pembentukan unit khusus di lingkungan kampus. “Sebagai bentuk keseriusan pihak universitas, Undana kini dalam proses membentuk Tim Kesehatan Mental khusus,” ujarnya. Tim ini tidak hanya diisi oleh para ahli psikologi, tetapi juga melibatkan dosen pendamping akademik yang dilatih untuk mendeteksi dini gejala gangguan kecemasan atau depresi pada mahasiswa.
Sinergi dengan YKPAI dan MCC mencakup pelatihan Peer Counselor (konselor sebaya), di mana mahasiswa dilatih untuk menjadi pendengar yang baik bagi rekan-rekannya. Langkah ini diambil karena mahasiswa cenderung lebih terbuka untuk bercerita kepada sesama teman sebelum mencari bantuan profesional.
Alasan Strategis Prioritas Kesehatan Mental
Berdasarkan evaluasi internal, tekanan beban studi dan ekspektasi karier pascakampus menjadi pemicu utama kerentanan mental di kalangan mahasiswa. Undana menyadari bahwa tanpa mental yang sehat, investasi besar dalam sarana prasarana fisik tidak akan membuahkan hasil optimal pada kualitas lulusan.

“Kami ingin menghapus stigma negatif mengenai kesehatan mental di kampus. Mencari bantuan psikologis adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. Dengan dukungan mitra internasional, Undana berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung pertumbuhan jiwa,” tambahnya.

Menuju Kampus Sejahtera (Well-being University)
Melalui penguatan resiliensi ini, Undana menargetkan penurunan tingkat putus studi (dropout) yang disebabkan oleh masalah tekanan mental. Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi perguruan tinggi lain di wilayah Nusa Tenggara Timur dalam mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam ekosistem pendidikan.

Dengan kolaborasi lintas lembaga ini, mahasiswa Undana diharapkan tidak hanya lulus sebagai tenaga ahli yang kompeten secara teknis, tetapi juga sebagai individu yang tangguh secara mental dan siap menghadapi kompleksitas dunia kerja yang terus berubah. (Ing)


Komentar