Bunda Literasi Lembata Kobarkan Semangat Membaca: Dari Resensi Buku hingga Generasi Berani Tampil!
LEMBATA – Semangat literasi di Kabupaten Lembata terus berkobar, dipimpin langsung oleh Bunda Literasi Kabupaten Lembata, Ny. Ursula Surat Bayo Tuaq. Dalam acara Pembagian Rapor dan Penyerahan Hadiah Lomba Pembuatan Resensi Buku Tingkat SMP dan SMA/SMK/MA se-Kabupaten Lembata Tahun 2026, Ny. Ursula mengajak generasi muda untuk tidak hanya gemar membaca, tetapi juga berani berpikir kritis dan menunjukkan potensi diri. Acara yang berlangsung di Aula Don Bosco Lewoleba ini menjadi panggung apresiasi bagi talenta muda, termasuk Regina Caeli Lamatapo, siswi kelas X SMAS Frateran Don Bosco Lewoleba, yang berhasil meraih Juara II lomba resensi buku tingkat SMA/SMK/MA pada Festival Literasi Kabupaten Lembata 2026.
Dalam sambutannya, Bunda Literasi Ny. Ursula menegaskan bahwa literasi melampaui sekadar kemampuan baca-tulis. “Literasi adalah fondasi untuk memahami informasi, berpikir kritis, dan memecahkan masalah sehari-hari,” ujarnya. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata atas inisiatif Festival Literasi, yang dinilai sebagai upaya strategis membangun generasi pencinta ilmu pengetahuan.
Lomba Resensi: Melatih Pola Pikir dan Kepercayaan Diri
“Lomba resensi adalah sarana melatih pola pikir dan menuangkan gagasan secara kreatif. Saya percaya setiap peserta adalah pemenang karena telah berani belajar dan menulis,” kata Ursula, memotivasi para peserta. Kepada Regina Caeli, ia berpesan untuk terus berkarya, mengingatkan bahwa kesuksesan lahir dari ketekunan. Lebih lanjut, Ursula menyoroti pentingnya menumbuhkan kepercayaan diri pada anak-anak Lembata, mengimbau orang tua, guru, dan masyarakat untuk menciptakan ruang aman bagi anak untuk mencoba dan bahkan gagal. Ia juga menekankan peran rumah sebagai sekolah pertama yang menumbuhkan minat baca. “Literasi adalah jembatan menuju kesejahteraan dan kemajuan daerah,” pungkasnya.
Perpustakaan sebagai Roh Pendidikan dan Peningkatan IPLM
Senada dengan Bunda Literasi, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Anselmus Asan Ola, menekankan bahwa gerakan literasi adalah proses panjang dalam membangun Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas. Ia memuji SMAS Frater Don Bosco sebagai salah satu sekolah dengan perpustakaan terbaik di kabupaten, sebuah kontras dengan kondisi banyak perpustakaan lain yang terbengkalai. “Perpustakaan harus menjadi roh pendidikan. Membaca hanyalah pintu masuk; setelahnya ada proses memahami konteks dan memecahkan persoalan kehidupan,” jelas Anselmus.

Anselmus juga mengungkapkan kebanggaan atas kenaikan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Lembata dari 56 menjadi 63 poin, namun mengingatkan agar tidak cepat berpuas diri. Ia menyoroti kualitas SDM yang masih menjadi pekerjaan rumah besar, mencontohkan hasil seleksi ASN beberapa tahun lalu. Oleh karena itu, ia menegaskan peran krusial keluarga sebagai fondasi utama. “Sekolah hanya memoles apa yang ditanamkan di rumah. Tanpa literasi dari lingkungan terkecil, Lembata akan tertinggal,” tegasnya.
Merdeka Belajar dan Karakter Anak: Kolaborasi Sekolah, Keluarga, Masyarakat
Dari sisi transformasi kurikulum, Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB Lembata, Yohanes Mamun Sabaleku, menilai Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SMAS Frater Don Bosco sebagai bukti nyata pendidikan yang melampaui nilai akademik semata. Empat tema projek—Bangun Jiwa dan Raga, Rekayasa dan Teknologi, Kearifan Lokal, serta Gaya Hidup Berkelanjutan—mencerminkan pembelajaran mendalam (deep learning) di mana siswa mengalami, merefleksikan, dan menciptakan solusi konkret. “Inilah hakikat sejati Merdeka Belajar,” katanya. Yohanes mengingatkan para orang tua bahwa rapor adalah potret komprehensif perkembangan karakter anak, bukan sekadar angka, dan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah kunci keberhasilan.
Menutup rangkaian acara, Kepala SMAS Frater Don Bosco, Frater David Jeda, CMM, S.Pd., M.Pd., menyampaikan pesan tegas tentang esensi pendidikan sebagai pembentuk karakter dan disiplin. Ia juga menyoroti pentingnya aktivitas rohani bagi siswa laki-laki dan keselamatan berlalu lintas. Mengutip edaran Gubernur NTT, Frater David menekankan bahwa keluarga adalah sekolah pertama. “Pendidikan berlanjut di rumah. Matikan televisi, batasi gawai, dan bangun komunikasi yang baik agar anak mendapat pendampingan optimal,” pesannya.
Acara yang meriah ini dihadiri ratusan orang tua, guru, dan warga sekolah, menandai komitmen bersama dalam mencetak generasi Lembata yang mandiri, cerdas, dan berakhlak mulia.


Komentar