Tangan-Tangan ‘Ajaib’ di Balik Alat Tenun: Bagaimana Ibu-Ibu NTT Menopang Ekonomi Tanpa Banyak Bicara
JAKARTA – 13 Juni 2026 – Di balik keindahan motif kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendunia, tersimpan kisah perjuangan luar biasa dari para perempuan yang bekerja dalam senyap. Pada pembukaan pameran “Weaving Wonders” di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Sabtu (13/6/2026), Gubernur NTT Melki Laka Lena mengungkap realitas menyentuh: kain tenun bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan “napas” ekonomi keluarga yang ditenun dengan penuh ketekunan.
“Di balik selembar kain tenun NTT, ada cerita tentang ketekunan, perjuangan, dan harapan. Ada tangan-tangan perempuan yang sejak pagi membantu suami di kebun, mengurus keluarga, lalu kembali duduk menenun hingga malam,” ungkap Gubernur Melki dalam sambutannya.
Kekuatan Ekonomi yang Melampaui Rata-Rata Nasional
Fakta mengejutkan terungkap dalam acara tersebut. Berdasarkan data Survei GoodStats 2024, kontribusi perempuan NTT terhadap pendapatan rumah tangga mencapai 42,4%, sebuah angka yang jauh melampaui rata-rata nasional sebesar 36,1%. Hal ini membuktikan bahwa perempuan NTT bukan sekadar pendamping, melainkan motor penggerak ekonomi yang tangguh.
| Indikator Ekonomi | Perempuan NTT | Rata-Rata Nasional |
| Kontribusi Pendapatan Rumah Tangga | 42,4% | 36,1% |
| Sektor Utama | Tenun, Pangan Lokal, Komunitas | Beragam |
Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, menekankan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan adalah kunci utama dalam memutus rantai masalah sosial seperti stunting, pernikahan dini, dan kekerasan. “Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” tegasnya.
Lebih dari Sekadar Warisan, Ini Adalah Kekayaan Intelektual
Gubernur Melki menegaskan bahwa tenun adalah simbol identitas dan kekayaan intelektual yang harus dilindungi. Proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran dan dedikasi tinggi menjadikan setiap lembar kain memiliki nilai filosofis yang tak ternilai.
Ketua TP PKK NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, juga menyerukan pentingnya dukungan nyata bagi para pengrajin. Menurutnya, ibu-ibu pengrajin tenun memikul peran ganda yang berat—sebagai pengelola rumah tangga sekaligus pencari nafkah tambahan. Dukungan berupa pelatihan, akses pemasaran, dan pendampingan usaha menjadi krusial agar warisan budaya ini tetap lestari sekaligus menjadi sumber kesejahteraan.
Kolaborasi Menuju Masa Depan Inklusif
Pameran yang diinisiasi oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari dan Uma Nusantara ini menjadi ruang kolaborasi strategis. Yori Antar, pendiri Yayasan Uma Nusantara, berharap pameran ini mampu mempertemukan pemerintah, investor, dan masyarakat adat untuk menciptakan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Langkah nyata pemerintah juga terlihat pada Mei 2026 lalu dengan penyerahan SK Perhutanan Sosial kepada enam kelompok tani hutan perempuan di NTT untuk mengelola 648 hektare lahan. Ini menjadi bukti bahwa perempuan NTT siap memimpin pemulihan ekosistem sekaligus menjaga kedaulatan ekonomi mereka.
#AyoBangunNTT
Sumber : Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT
Penulis: Alexander L. Raditia – Editor : Redaksi PelitadesaNTT.com


Komentar